Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.

Kamis, 10 Februari 2011

Sedikit tentang novel gravis, trilogi warna karya Kim Dong Hwa

Kemarin malam, saya bersama seorang teman sengaja ke Gramedia Mall Panakukang, khusus untuk mebaca di tempat. Saya tidak tahu apa yang teman saya, Panji baca di sana. Sebab pas sampai kami langsung berpencar cari buku masing-masing. Kalau saya langsung mencari seri ke-tiga trilogi warna karya Kim Dong Hwa, yakni Warna Langit.
Buku pertama dan keduanya saya dapat dari teman saya Happy. Saya yakin dia sudah punya bukunya, tapi karena pengalaman baca buku ini bisa selesai dalam waktu cepat, saya memutuskan untuk membacanya di gramedia saja. Karena ini seri terakhir, membacanya juga dengan semangat menggebu-gebu...(heheh). Dan akhirnya selesai satu jam sebelum gramedia tutup.
Saya suka novel grafis ini karena ceritanya tentang kehidupan perempuan yang beranjak dewasa, Ehwa yang hidup hanya berdua dengan ibunya. Banyak kisah-kisah seru dan mengharukan. Sungguh perempuan. Hal-hal sederhana tentang perempuan dan tentu saja penghayatan perempuan akan CINTA dan kesetiaan. Ah, keren sekali. Gambarnya juga...wow...saya pokoknya menggemarinya, sangat.
Oya, ada kutipan mama Ehwa yang saya suka di Buku Warna Langit "Itulah karma wanita. Hukuman bagi kita adalah menanam cinta di dalam hati kita dan dengan hati-hati menyiram dan merawatnya"

Ayo bandingkan dengan sampul versi aslinya, mana lebih keren?



Sedikit tentang "The Book of Eli"



Kemarin saya menonton film berjudul The Book of Eli. Lumayan bagus, banyak pesan mengenai keimanan yang disampaikan serta bagaimana hidup ini dihidupi. Saat menontonnya jadi teringat film Kera Sakti. Sama-sama melakukan perjalanan ke Barat. Bedanya, Kera Sakti beserta rombongan ingin mencari kitab suci di Barat, Eli justru ingin membawa kitab suci satu-satunya yang tersisa pada masa itu (masa setelah peradaban hancur akibat perang) ke Barat. Saya tak akan memberikan penilaian mengenai film ini selain berkata bagus dan menyerankan untuk menontonnya bagi yang belum. Setidaknya kalian akan menangkap pesan yang cukup dalam dari film ini. Saya hanya ingin mengutip beberapa kalimat yang saya suka dari film ini.
Saat si Solara menanyakan pada Eli bagaimana kehidupan sebelum perang? Dan Eli pun menjawab "Orang-orang memiliki lebih dari yang dibutuhkan. Kita tidak tahu yang mana yang berharga, yang mana tidak. Kita membuang barang-barang yang sekarang orang rela saling bunuh.
Oya, setelah menontonnya kemarin, saya menceritakannya pada kekasihku.
Dan dia bertanya "apa intinya tu pelem bede?"
Saya cuma bilang ndatau karena malas menjelaskan, soalnya saya yakin itu pertanyaan menjebak pastinya.
"Intinya toh, biarmamo hancur peradaban, ipod tetap ada, hahaha..." kata kekasihku.
Hmm...jago juga dih sih ipod mengiklankan diri lewat pelem begini, saya mungkin ndak sadar kalau kekasihku ndak bilang begitu...^_^

Tentang Yanni



Pertama kali saya menyaksikan video konsernya waktu acara europe on screen 2007. Di Makassar diadakan di Cafe Baca Biblioholic, waktu itu masih di samping STIMIK AKBA. Saya masih MABA, dan belum bergabng menjadi volunteer di Biblioholic. Tapi sudah kenal beberapa orang, salah satunya kak Ochank kebetulan karena dia adiknya salah satu senior di Pramuka DKD. Nah, kak Ochank inilah yang memutarkan video Yanni, sembari menunggu penonton yang lain datang. Karena saya lumayan cepat datang pada waktu itu, jadi sempat liat konsernya Yanni. Keren sekali.

Pas, bergabung di Biblioholic, saya jadi sering nonton videonya. Pinjam kasetnya kak Ochank, belakangan saya baru tahu kalau DVD bajakannya banyak di jual di MTC.

Bulan lalu saya baru ingat lagi sama si Yanni ini. Sayangnya pemutar DVD di laptopku rusak, jadi tidak bisa menikmati video konsernya. Ternyata eh ternyata, banyak di Youtube sodara-sodara, kenapa baru terpikir yah? Sutralah...

Dapat fanpage-nya juga di Facebook. Banyak foto terbarunya, semakin tua semakin cakep saja si komponis dari Yunani itu. Oya kalau mau tahu lebih banyak tentang dia, klik saja websitenya. Saya tidak perlu cerita banyak tentang siapa dia, toh saya hanya tahu dia lahir tanggal 14 November 1954, ituji hehehe...
Yang jelas musiknya keren-keren.
Cobami dengar sendiri...

Yubiami kedua, kado untuk Aan

Hai-hai, ini yubiami kedua yang kubikin. Sengaja dibikin buat kado ulang tahun teman saya, M.Aan Mansyur yang sudah lewat beberapa minggu. Soalnya kalau untuk teman laki-laki saya paling bingung mau kasi apa. Untungnya ada kelas rajut di Linonipi kemarin. Walaupun sudah terlambat kasih kadonya sih. Sejak tahun lalu saya berusaha membuat kado untuk siapapun dengan tangan saya sendiri. Saya rasa itu lebih punya makna dalam daripada kado yang dibeli (cieee...^_~)
Oya, salah satu keunggulan yubiami, kita bisa bikin sambil baring-baring, tengkurap, dan posisi lainnya, hehehe. Buktinya ini, saya bikin pas lagi nyeri haid menyerang. Jadinya bikin yubiami sambil guling-guling kesakitan. ^_^

Ini benang berwarna gelap terakhir, hampirmi pakai benang warna pink seandainya ndada...

Saran penyajian (mie instan kapang?)

Diikat pita (biar mami kayak kado untuk cewek ka iniji yang kutau kasian!)

Terakhir dibungkus pakai kertas bekas poster festival musik punk Makassar
(rata-rata kertas kado yang saya punya gambar boneka belah, kan ndak lucu kalau buat laki-laki)



Nah, ini karya si HITAM PEKAT. Kami sama-sama kecanduan bikin yubiami. Dan ini karya dia yang kedua juga. Dan spesial untuk ulang tahun Shinta Febriani yang tak lain teman M. Aan Mansyur juga...hehehe...
Di tes dulu...

Tak lama loh bikinnya...

Minggu, 06 Februari 2011

Dompet CD dari poster bekas.

Beberapa minggu yang lalu, saya ke Biblioholic sekedar membersih-bersihkan. Sudah tebal debu-debunya, saya selalu merasa bersalah membiarkannya seperti itu. Tapi saya punya banyak hal yang juga harus kuselesaikan, jadi maafkan saya.
Pas seru-serunya merapikan barang, saya menemukan beberapa poster yang sudah kadaluarsa. Tapi gambarnya keren jadi sayang jika tidak di make over. Jadilah poster pertama, yaitu poster pemutaran film perdana Jalan Remaja tahun lalu saya bikin pembungkus kaleng yang disulap jadi tempat pensil.
Semalam saya membuat tempat CD dari poster di bawah ini. Tutorialnya silahkan klik postingan Mbak Tarlen.


Tidak sampai di situ, saya kepikiran untuk satukan dompet CD ini pakai cara binding. Tapi ternyata susah minta ampun kalau hanya belajar dari gambar. Jadinya tidak begitu rapat dan tentu saja tidak rapi. Saya harus cari tutorial lebih banyak lagi mestinya baru mencoba lagi.

Sampulnya, supaya lebih menjiwai "make over",
saya pakai karton bekas tempat dispenser tetangga kamarku. ^_^

Tedeng...jadilah...hehehe...
Sangat sederhana...

Bikin Scrub Gula

Kemarin pagi, di Makassar hujan mengguyur, sampai pagi ini malah. Saya tidak bisa keluar rumah. Harus selalu siap siaga kalau badai tiba-tiba datang lagi dan menerbangkan atap pondokanku untuk kedua kalinya (mudah-mudahan tidak lagi!). Bisa basah semua harta karunku: BUKU. ^_~
Jadilah saya bereksperimen ria membuat Scrub Gula. Panduannya liat di buku 'Kreasi Kado untuk Anak'. Mudah dan murah tentunya. Oya, scrub gula ini berguna untuk mengelupas kulit kasar pada siku tangan dan tumit loh!

Bahannya: Gula, Minyak Zaitun, dan Essensial (ini sesuai selera, saya memilih Cempaka)

Step 1: Masukkan dua sendok gula dalam wadah. (Karena baru percobaan, bikinnya sedikit saja)

Step 2: Masukkan 1 + 1/2 sendok minyak zaitun, lalu aduk. (Sesuai selera sih, mau yang lebih berminyak atau tidak)

Step 3: Masukkan setengah sendok minyak essensial. (Ini juga sesuai selera, eh kayak mau bikin kue saja, hihihi...)

Jadimi...


PERINGATAN:
Scrub ini hanya untuk orang dewasa yang kulitnya sudah cepat kering. TIDAK untuk wajah dan kulit sensitif. GUNAKAN dalam keadaan kulit sedang basah lalu bersihkan dengan air hangat!

Selamat mencoba...

Jumat, 04 Februari 2011

My First Yubiami

Tiap hari Kamis, ada kelas rajut yang diadakan di Linonipi Infohouse. Saya mengikuti pelajaran pertama yaitu merajut dengan dua jarum tapi sudah lebih satu bulan rajutanku tidak kelar-kelar akibat penyakit bernama MALAS. Hehehe... Nah, pelajaran kedua, kemarin tanggal 3 Februari 2011 yaitu YUBIAMI. Teknik merajut dengan menggunakan empat jari. Ini lumayan mudah dan bisa selesai dalam waktu yang cepat. Makanya kemarin semangat skali selesaikan dan inilah hasilnya.
Oya, karena di Makassar tidak ada yang menjual benang rajut, si pengajar kami jauh-jauh ke Bandung buat beli bahan (skalian pulkam). Benang-benang yang kami gunakan dibeli di TOBUCIL. Walaupun saya belum sempat ke sana, minimal sudah merajut pakai benang dari sana, hehehe.

Menemani Citto beli perlengkapan bayi

mulai dari pakaian

trus untuk perawatan bayi, sabun dan sebagainya

Toko Millenium, Endekado, dan terakhir Coto Daeng

Selasa tanggal 27 Januari kemarin, saya menemani temanku,
Citto mencari beberapa perlengkapan bayi.
Usia kandungannya sudah delapan bulan. Jadi memang harus siap-siap.
Ini pertama kalinya saya menemani teman membeli perlengkapan bayi.
Saya bingung sendiri (padahal bukan saya yang mau belanja) hehehe...
Proses kelahiran memang akan sangat berkesan dan selalu mendebarkan.
"Maka terkutuklah orang yang merehkan kehidupan" itu yang dikatakan
kekasihku jika mendengar ide tentang bunuh diri.
Awalnya kami mau ke Sentral. Pasti bisa dapat barang-barang lebih murah.
Tapi karena kami beragkatnya siang-siang, saya khawatir si Citto kesulitan di sana.
Belum lagi keramaian yang pasti tambah bikin sesak.
Makanya kami memutuskan ke toko perlengkapan bayi saja. Asal bukan di Mall, karena pasti sangat mahal.
Jadi kami memutuskan membeli di toko Millenium dan Ende Kado, lupa jalan apa namanya.
Setelah semua keperluan bayi didapat (Citto memang sudah bawa catatan sendiri supaya
tidak membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan), waktunya pulang.
Tapi kami singgah dulu makan coto di Coto Daeng, yang katanya coto paling enak di Makassar.

Hmm, jadi ingin segera punya bayi juga... ^_~