Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.

Selasa, 25 Januari 2011

Sedikit tentang Female Agents dan Sophie Marceau

Beberapa hari lalu saya nonton film Female Agents. Dikasi sama si Panopticurse. Asli keren filmnya. Saya suka film kalau diangkat dari kisah nyata. Jadi ini film bercerita tentang 5 perempuan yang menjadi agen di Paris untuk membunuh seseorang tentara Jerman. Untuk pembebasan Perancis dari Nazi. Pokoknya seperti itulah. Asli bikin panas, semakin membenci sama pengecut-pengecut gila kekuasaan dan menciptakan perang.
Saya suka tatapan matanya di sini

Gara-gara itu film saya jatuh cinta sama si Sophie Marceau. Aktingnya keren. Eh setelah menelusuri, ternyata kami lahir pada tanggal yang sama. Cuma beda 23 tahun. Pantas, pas nonton saya selalu bilang, kayak pernah ketemu dia di mana begitu. Hehehe...

Senin, 24 Januari 2011

Tempat pensil sederhana dari kaleng dan poster bekas

Susahnya menggambar orang

Dua teman main origami yang seru

Esha

Shaldy

Kisah penonton yang suka mengumpat "Jalang"

Hei, tahu dirikah kau sudah berapa lama menonton kisah ini?

Tahu apa kau tentang episode-episode yang terlewatkan?

Kau banyak bicara seolah-olah penonton sejak awal.

Hei, ingat! Kau hanya mendengar cerita dari pemeran antagonis bertopeng.

Berhentilah menjadi pahlawan. Cerita yang kau tuturkan pun berbelit-belit.

Berapa yang kau bayar untuk kursimu? Hah?

Ini film, bukan sinetron. Jangan mengumpat di depan layar.

Itu tak mengubah apa-apa.

Kau penonton baru sayang.

Berhenti menonton, atau kau urusi saja dunia barumu.

Usah menyatakan perang!

Rabu, 19 Januari 2011

Tiga tahun AOINIJI, sebuah repleksiong!

Hai, hari ini tepat tiga tahun saya mengelola blog AOINIJI. Tidak terasa juga. Saya membuat blog ini pas masih hangat-hangatnya menduduki bangku kuliah. Kalau mau diingat-ingat sudah cukup lama juga dih, saya kuliah. Hapir empat tahun. Semestinya saya sudah sibuk menyusun skripsi sekarang (jika saya mau mengikuti garis normal yah!). Selain tidak ingin seperti orang-orang normal menyelesaikan kuliah empat tahun, saya memang harus kuliah lama-lama. Toh, saya pernah transfer kuliah. Jadi pastilah lambat selesai.

Aduh, tiga tahun saya melewatkan banyak hal, dan tentu saja meninggalkan genangan kenangan tentang banyak hal. Saya tentunya banyak berubah.

Mulai dari kegiatan, minat, dan teman-teman.

Awal perkuliahan, kegiatan saya lebih banyak kuhabiskan dengan kegiatan di Mushallah Al-Adaab Sastra dan tentunya bersama teman-teman seangkatan NIJI 07. Dulu saya jilbaber taat. Dengan kata lain saya penganut agama Islam syariat. Toh itu kubawa dari SMA dulu. Tak lupa, kegiatan PRAMUKA.

Semester dua, saya mulai bergabung menjadi volunteer Café Baca BIblioholic bersamaan dengan diterimanya saya menjadi volunteer di Honobono. Banyak hal yang baru kudapatkan di tempat ini, juga berkenalan dengan orang-orang seru, komunitas Ininnawa. Saya mulai meninggalkan kegiatan di Mushallah. Bukan karena kesibukan, tapi saya memang sengaja. Perbedaan cara pandanglah yang melatarinya. Saya tidak membenci satupun dari teman-temanku di sana. Toh, saya tak pernah merasa bersalah dengan siapapun atas keputusanku ini. Oya, di semester dua ini juga, saya sempat menjadi pengajar salah satu bimbingan belajar untuk anak SD. Tapi tidak berlangsung lama, karena tempatnya lumayan jauh dan menurutku gajinya hanya untuk menutupi ongkos perjalananku ke tempat mengajar. Setidaknya dengan waktu dua bulan itu saya sudah banyak belajar banyak hal. Jika tak betah, kenapa harus bertahan? Di semester ini pula saya mulai tertarik mendalami dunia tulis menulis.

Pas semester tiga, saya mulai menulis di Panyingkul. Saya senang melakukannya. Hingga kini saya sudah menulis enam reportase jurnalisme orang biasa di sana. Lumayanlah untuk pembelajaran. Saya sering merasa cukup dengan sesuatu hal, makanya jika sudah melakukan sesuatu, meski belum “wah” saya sudah merasa cukup dan perlahan-lahan meninggalkannya, hehehe. Di semester ini pula, saya bergabung dengan Unit Kegiatan Menulis Mahasiswa (UKMM) Sastra. Ini UKM yang paling keren menurutku di Sastra. Bagaimana tidak? Kita bebas. Tak ada peraturan yang begitu ketat di sini. Pokoknya seru menurutku bertemu dengan anak UKMM. Pada semester ini, saya juga mulai belajar bagaimana menjadi guide yang baik. Lewat kak Anna, dari RUMAH KAMU, saya diajak menjadi pemandu 30 mahasiswa Jepang yang sedang berlibur selama sembilan hari di Sulawesi Selatan. Setelah itu, saya semakin banyak berkenalan dengan orang asing. Tentunya banyak pelajaran baru yang kuterima.

Oya, ada satu kegiatan yang juga kusenangi, menonton pertunjukan seni di Gedung Kesenian Makassar. Di sana saya berkenalan dengan banyak orang yang menggelari dirinya pekerja seni. Lumayan unik!

Semester empat, saya memutuskan untuk pindah jurusan dan mulai mengurusnya pada semester ini. Saya muali malas masuk kuliah, toh sebentar lagi saya akan pindah jurusan. Jadi, saya hanya masuk pada mata kuliah fakultas dan mata kuliah umum. Saat itu pula, saya sering bermalam di fakultas. Berdiskusi tentang banyak hal dengan komunitas yang kami sebut KAMPUNG SASTRA. Perkumpulan mahasiswa sastra angkatan 2007. Inilah masa-masa yang mungkin akan selalu membuatku tertawa jika kukenang. Ada banyak kawan-kawan yang lucu dan sangat menyenangkan. Ah, aku pasti akan selalu merindukan mereka. Di semester ini pula saya menyukai seseorang yang pertama kulihat di semester dua pada perayaan May Day. Dia satu angkatan di atasku jurusan Sejarah. Kami sepakat jalan bersama, hingga kini. Saya menjalani kehidupanku hari ini, banyak belajar dari dirinya dan teman-temannya yang kini menjadi teman-temanku juga di Idefix. Dia juga sangat membantuku pada saat mengurusi kepindahanku dari Sastra Jepang ke Sastra Daerah. Banyak yang heran dengan keputusanku. Sekali lagi, jika tak betah kenapa harus bertahan? Saya kemudian tidak begitu suka dengan industri dan budaya yang dihasilkan. Setidaknya saya harus mengurangi keterlibatanku dengan sesuatu yang tak begitu kusukai. Lagipula, saya sejak semester dua, sudah sangat ingin fokus mempelajari budaya kampungku sendiri, Bugis. Daripada menjalani perkuliahan yang sudah membosankan? Toh, saya kuliah bukan untuk mencari ijazah saja, tapi pengetahuan.

Jadilah semester lima saya di Sastra Daerah. Berteman dengan orang-orang baru. Yah, meskipun pada kenyataannya proses perkuliahan tidak begitu seru karena beberapa dosen yang asal mengajar. Setidaknya bahan ajarnya selalu menarik sehingga saya tetap betah. Lagipula saya sedang semangat-semangatnya ke kampus karena selalu ingin bertemu seseorang di sana. Yah, semester ini saya banyak menghabiskan waktu dengan kekasih saya. Banyak hal yang kami lakukan bersama. Termasuk kegiatan-kegiatan seru di Idefix. Saya jarang lagi memperhatikan Biblioholic, hehehe.

Semester enam, saya bergabung di Kampung Buku. Bekerja sebagai manajer keuangan distribusi buku. Banyak belajar dengan Piyo serta suaminya Jimpe tentang urusan distribusi buku, sekaligus belajar bagaimana memeriksa aksara sebuah buku sebelum diterbitkan. Pokoknya pengalaman baru lah. Selain itu saya juga bergabung dengan komunitas Sketcher Makassar. Nah, ini juga kegiatan seru, bebas mau menggambar apa dan tak ada aturan yang mengikat. Saya suka kegiatan-kegiatan di mana kita bebas berekspresi tanpa ada patokan benar salah. Lebih tepatnya mengikuti kata hati saja, hahhay…

Selanjutnya semester lalu, semester tujuh. Saya mengurusi bagian kesekertariatan Ininnawa. Senag juga bisa dapat pekerjaan ini, tapi ternyata saya terlalu serakah. Banyak kerjaan sehingga banyak yang terbengkalai. Beberapa bulan kemudian saya mengundurkan diri. Ingin fokus dengan kuliah saja. Toh, saya memanajeri Biblioholic, saya malah tidak lagi megurusnya. Pokoknya banyak hal yang tidak kuselesaikan. Kata seorang teman, hasrat kita memang hanya harus diwujudkan tapi ingat kita dibatasi oleh waktu dan tenaga, jangan sampai malah jadi serakah. Yah, saya memang terlalu banyak keinginan untuk melakukan banyak hal. Ingin mahir origami, zine kolektor, pustakawan, pembuat sketsa keren, penulis handal, pengrajin clay dan felt, dan masih banyak yang ingin saya lakukan. Tapi, ya begitu mi…

Kalau mau ditanya, saya menganut paham apa, aduh jangan berharap saya akan menjawabnya. Saya tidak berpaham apa-apa. Yang jelas saya mengimani adanya Tuhan dan tak ingin dikekang. Itu saja. Hidupku selalu berubah-ubah soalnya. Tapi saya tidak merasa salah, toh berubah dari yang tak begitu bagus jadi bagus sesuai kata hatiku, kan ndak masalahji. Kan saya ji…hehehe.

Waktu SMA, saya berprinsip tidak mau bergantung lebih dengan produk-produk luar negeri yang terbukti turut andil dalam membantu menyuplai senjata dam peperangan antar Islam dan Yahudi. Jadilah saya seorang yang pencinta produk lokal. Pokoknya kalau dapat produk alternatif buatan Indonesia saya beli. Tapi sama saja tetap gila belanja, apalagi yang bertema etnik-etnik. Bedanya cuma siapa yang menghasilkan produk. Terus pas kuliah, saya semakin gila dengan barang-barang lokal. Lama kelamaan, berkat sering terlibat perbincangan seru dengan kekasihku, saya sadar sebenarnya yang mesti kulawan adalah hasrat belanjaku yang berlebihan. Toh, produk luar negeri dan produk lokal sama saja. Dia lahir dari sistem perekonomian yang sudah menjerat dan satu-satunya jalan yang mungkin dilakukan untuk kehidupan harian kita adalah meminimalisirnya. Tak perlu menunggu rezim ditumbangkan oleh sang revolusioner. Kita semestinya mulai dari hal peling kecil, yakni kehidupan sehari-hari. Bagaimana memaknai dan mengkritisi kehidupan ini.

Makanya sekarang saya lebih tertarik dengan proyek-proyek bikin sendiri. Beberapa bulan yang lalu belajar bikin sabun sendiri, belajar bikin tas sendiri, pokonya berusaha sedikit mungkin untuk belanja. Kan ada namanya usaha walaupun sedikit susah. Tapi tetap berhati-hati, saya selalu mempertanyakan apa yang kulakukan hari ini bukanji karena mau dibilang atau sekedar ikut-ikutan? Sok-sok radikal nabilang bukunya Radikal Itu Menjual, hehehe…Oya satu lagi, saya sekarang berpartisipasi di Infohouse Linonipi. Tempat yang paling menyenangkan untuk berbagi banyak hal.

Ups, terlalu panjangmi sesi repleksiong nya dih?

Terakhir, selamat ulang tahun untuk blogku tercinta AOINIJI-PELANGI BIRU


Selamat Ulang Tahun AOINIJI


Hai, hari ini ulangtahun AOINIJI. SUdah tiga tahun berseliweran di dunia maya. Maka dari itu beberapa hari yang lalu saya mengirimkan ucapan terima kasih untuk lima blog keren yang tak pernah absen untuk diintip AOINIJI.
Terima kasih untuk Yufinats, Perdu Liar, Ojanto, Virtarlenology, dan Ideku Handmade. Kalian penginspirasi untuk tahun ini. Saya sangat suka blog kalian.
Masih banyak sih blog yang selalu menjadi inspirasi, tapi lima blog di ataslah yang PALING, hehehe...

Jumat, 14 Januari 2011

Sedikit tentang Linonipi

Oya, saya belum cerita tentang linonipi dih?
Hampirmi kulupa...
Nah, Linonipi adalah nama sebuah infohouse di Makassar. Belumpi lama ada, baru tanggal 11 November 2010 kemarin dibuka.
Tempatnya di kampung lama (begitu orang-orang bialng) belakang pertamina samping Universitas Cokroaminoto. Rumahnya di masuk lorong-lorong belah, belum ada nomor rumahnya pula. Tapi tidak terlalu sulit kalau mau dicari. Tanyakan saja di mana infohouse tempat
anak kecil sering kumpul membaca. Pasti ketemu, atau kalau mau ke sana hubungi saya saja. Nanti saya temani. Kalau mau info lengkapnya klik saja "Linonipi"

Saya cukup memberikan keterangan pada gambar-gambar ini, ^_^


Nah, ini ada papan namanya, jadi jangan takut tersesat...

Ada dua pintu bagian depan, jangan sampai salah ketuk...

Banyak ragam zine di sini, tapi kalau mau miliki copy sendiri nah...

Ini yang paling khas, ada beberapa stencilan menarik di sini...

Trus ada perpustakaan dengan berbagai macam buku buat tambah isi otak

Cara bikin boneka washi versi Camane

Beberapa hari yang lalu seorang teman minta diajari bikin boneka washi seperti yang pernah kubuat. Katanya itu hadiah calon pacarnya anak Sastra Jepang ^_~

Rabu, 12 Januari 2011

Kelas Origami di Linonipi yang tak berjalan


oya, latarnya ini origami dari salah satu ornamen drum yang rusak pas acara benefit gigs for support your local infohouse, ada gunanya toh? Daur ualng memang benaaarrr...

Hai, masih ingat catatan tentang kelas origami pertamaku? Gara-gara itu, beberapa teman menganggap saya bisa membuat banyak macam origami. Padahal saya masih sementara belajar, susah mengingat makanya selalu ada buku panduan melipat di sampingku, hehehe.
Nah, seperti yang kucantumkan di profilku, bahwa kini saya juga menjadi partisipan rumah info Linonipi . Eh saya malah dipercayakan membuat kelas origami. Bulan lalu sudah ada jadwal, tapi kelasku belum pernah jalan. Saya hanya membuat beberapa contoh origami sekedar menjadi pajangan di sana. Soal kelasnya, bulan kemarin saya sangat sibuk, lagipula saya belum terlalu pede mengajar kalau masih bolak balik liat buku, hehehe. Tunggumi saja nah, pasti kulaksanakan ini kelasku, mahirpa, hehehe...

Selasa, 11 Januari 2011

Pilihan pengharum kamar alami


Masih ingat ceritaku tentang dupa-dupa warnanya? Nah, liburan kali ini, dua oang temanku Panji dan Caco jalan-jalan ke Bali. Tanpa pikir panjang, saya pesan dupa aroma frangipani. Eh dibelikan satu bungkus. Lumayan, bisa mengharumkan kamar. Daripada pakaipengharum kimia? Tidak ramah lingkungan. Banyak hal-hal kecil yang bisa dilakukan untukmenjaga bumi loh. Kenapa tidak lakukan?

Sket diari #4

Di ruangan perkuliahan benad ini masih terpajang, tapi sudah tidak pernah di pakai...

Senin, 10 Januari 2011

Mari bermain kain perca

salah satu rangkaian dari proyek kain perca kemarin. Binderku sudah cukup tua, sampulnya sedikit robek, sedangkan perkuliahan sepertinya masih lama. Makanya, celana batik tercinta namun sudah tak layak pakai saya sulap jadi begini. Cantikji kah???

Minggu, 09 Januari 2011

Armed Love with Photo

Sepulang dari Kaluku, saya ke Makassar. Sebenarnya libur masih lama berakhir. Tapi saya punya beberapa hal yang harus kuselesaikan (proyek liburan) di Makassar. Tapi tentunya sebelum itu, saya ke Jeneponto, jalan-jalan ke rumah kekasihku, Kurns. Karena tempatnya lebih dekat dengan kota Bantaeng, tanggal 4 saya ke Taneta, tak ketinggalan kodak-kodak...Di bawah ini beberapa sesi foto-foto tentunya hanya dengan Kurns, kekasihku

Sebelum menyaksikan pembukaan Makassar Art Moment, Benteng Rotterdam
Sepulang dari kuliah...
Sehabis berburu putu cangkiri di belakang rumah sakit Wahidin
26 September 2010, masih di Danau
Sesi foto pertama, 25 September 2010 di Danau Unhas


Hey, Kurns
Terima kasih tak pernah bosan menjadikanku objek fotomu
Your Precious...

Hari kedua di Januari 2011

Kain perca numpuk...I Love it...

Nih salah satu hasilnya, kacamata tidur

Besoknya, saya sama Mamaku pergi ke Kaluku, Pitumpanua, Wajo. Kampung halaman, kebetulan ada keluarga yang menikah. Mutar lewat Rantepao, Palopo, Siwa, baru sampai Kaluku. Perjalanan sekitar 5 jam.
Sampai di Kaluku, ternyata ada tanteku yang bekerja sebagai perias pengantin. Untuk sementara dia tinggal di Kaluku karena banyak orderan riasan pengantin. Sampai mesin jahitnya dibawa serta. Jadilah saya dan mamaku menjahit ria. Ada banyak kain perca yang siap didaur menjadi benda cantik.

Hari pertama di 2011

Bir tahun baru pemberian tetangga
Cuma Ettaku yang mencicipinya

Setelah cukup lama tertidur akibat lelah menonton kembang api semalam, leher pegal-pegal karena tak pernah berhenti melihat langit penuh asap kembang api...Saya pun bangun sekitar pukul 8 pagi.
Tak ada yang spesial hari pertama ini. Toh memang tak perlu spesial kan? Saya juga tak berniat membikin daftar rencana setahun akan datang, lebih seru jika segala sesuatu tanpa rencana alian di luar rencana kata kekasihku. Toh masa depan belum dituliskan, maka usah berharap banyak. Hari ini ya hari ini...
Saya masih di Toraja, salah satu kebiasaan di sini, pada hari raya agama masing-masing selalu ada yang dibagi. Waktu lebaran Idul Adha kemarin, keluargaku dapat ayam potong dari tetangga beragama Nasrani. Tanggal 25, Natalan, mamaku membuat kue brownies untuk diberi ke tetanggau tadi. Giliran tahun baru, tetanggaku itu memberi sebotol bir.
Sekali lagi, Selamat Tahun Baru...

Sabtu, 08 Januari 2011

Survei Penggunaan Kantong Kresek

Teman-teman bantu survey ini ya..
Informasi ini di publikasikan kembali dari http://surveykresek.blogspot.com/

Saat ini kantong kresek merupakan barang yang sangat populer digunakan oleh warga di seluruh dunia. Di Indonesia, kehadiran supermarket di tahun 1980an telah mempopulerkan penggunaan kantong kresek. Sejak saat itu perlahan-lahan penggunaan tas/ keranjang belanja mulai ditinggalkan, diganti dengan kantong kresek.

Untuk mengetahui berbagai hal terkait dengan penggunaan kantong kresek, maka sekelompok warga di beberapa kota di Indonesia berupaya mengembangkan sebuah survei.

Tujuan survei antara lain untuk:


  • Mengidentifikasi pola penggunaan kantong kresek oleh konsumen di beberapa kota besar di Indonesia
  • Menggali sumber utama yang membagikan kantong kresek kepada konsumen
  • Mengidentifikasi kesediaan konsumen & penjual untuk mengurangi kantong kresek
Besar harapan kami warga di kota-kota besar, seperti Jabodetabek, Bandung, Yogya, Surabaya & Denpasar, bersedia menjadi responden survei, serta turut menyebarluaskan survei ke jejaringnya.

Untuk mengisi survei, silakan klik tombol di bawah ini:



Hari terakhir pengisian survei tanggal 14 Januari 2011.

Hasil survei nantinya akan kami sebarluaskan. Bagi yang berminat, sila kirim surel ke: surveykresek@gmail.com

2011 di Toraja

Tri, Saya, Mamaku, Andri (Upi yang ambil gambar)

Saya, Eni, Gandi, Ai (Soren yang ambil gambar)
Selamat tahun baru...
Saya sih tidak begitu peduli dengan perayaan tahun baru, kebetulan saja pas lagi liburan dan saya memang harus pulang ke Toraja rumah orang tua. Sudah lebih lima tahun orang tuaku memilih tinggal di sana.
Nah, seperti tahun-tahun sebelumnya, Toraja selalu menjadi tempat kunjungan wisatawan dalam rangka memperingati Lovely December. Ini salah satu program tahunan pemerintah. Lebih lengkapnya cari tahu saja di om Google. Saya tidak begitu suka bercerita tentang program seperti itu. Malas deh berurusan sama pemerintah! Hehehe...
Ok lanjut, ternyata eh ternyata ada Eni, Ai, Gandi, sama Soren (teman-teman Kampung Sastra) yang sedang berlibur juga di Toraja. Jadilah kita baku kontak-kontak. Lalu ketemuan di depan rumahku.
Oya, pas tanggal 31 Desember 2010 pasar Makale super padat. Sama kalau kita di pasar-pasar Makassar dan daerah mayoritas Muslim kalau mau lebaran. Dan sebagai anak pedagang di sana, saya turut sibuk melayani pembeli. ^_~
Pas pukul 4 sore, eh sudah ada yang bakar petasan dan kembang api. Tambah ramai lah pasar.
Oya, di Toraja mah sejak awal Desember bunyi petasan dan kembang api sudah laris. Tiap malam pasti ada yang membakarnya.
Puncaknya, ya malam tahun baru. Pukul 8 malam, setelah mencicipi sedikit makanan dan minuman di rumahku, Saya, Eni, Soren, Gandi, dan Ai keluar menuju kolam. Ternyata di sana sudah ramai penonton kembang api mengitari kolam dengan patung Lakipadada di tengahnya. Sampai subuh kembang api terus dinyalakan. Ndak tanggung-tanggung ni orang tator...wedede...