Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.

Sabtu, 28 Februari 2009

Wahai penerbit buku, dengarlah!



Beberapa hari terakhir ini saya bertugas mendata buku. Buku baru yang akan menjadi koleksi cafe baca Biblioholic. Mendata, setelah itu memberi sampul plastik agar lebih awet, terakhir memberinya label. Banyak hal baru yang kutemukan dari kegiatan yang cukup melelahkan itu.
Salah satunya, saya sudah bisa membedakan mana penerbit buku yang memenuhi syarat penerbitan buku. Mungkin sebagian mengira ini tidak begitu penting. Tapi sebagai pustakawan, saya merasa terganggu. Saat menginput data.
Beberapa penerbit tidak mencantumkan jumlah halaman dan ukuran buku. Serta tak dicantumkan jenis buku yang diterbitkan. Sebagai pemula saya kadang sulit membedakan beberapa jenis buku. Seperti buku sosiologi dan budaya, dan lainnya.
Entah aturan tentang itu tidak diketahui pihak penerbit atau bagaimana. Padahal, beberapa diantaranya adalah penerbit yang ternama dan menerbitkan karya-karya ternama pula.

Selasa, 17 Februari 2009

Sajak ini Kuberi Judul: Buku oleh Hasan Aspahani

senangnya pagi-pagi dapat sajak dari penyair favorit untuk Biblioholic

: untuk Kafebaca Biblioholic

/1/

PADA hari ulang tahunku, ada yang memberi kado
: sebuah buku. Aku terkejut karena ternyata
ada engkau dalam kado itu.

"Selamat ulang tahun, ya," katamu.

Sejak saat itu, kau dan aku,
menjadi kekasih abadi.

Sehidup.
Semati.

/2/

ENGKAU, Sayangku, adalah buku,
aku membaca matamu tak jemu.

Sampai kau bilang, "Sudah ya,
aku mau memejam dulu..."

"Ya," jawabku - sambil diam-diam
berharap kau mengajakku tidur
bersamamu. Dan membayangkan
halaman paling rahasia dari dirimu.

Halaman yang hanya bertulisan
sebuah kata, yang kau sendiri,
belum pernah membacanya.

"Mungkin saja, itu hanya teka-teki.
Yang sudah kau tahu jawabnya. Kau,
silakan menebak apa pertanyaannya..."
katamu pada suatu hari.


/3/

DI Rumah Buku.

Aku sering tersesat ke masa lalu,
menjadi bocah nakal lagi,
berlarian tanpa sepatu,
berguling-gulingan di lumpur,
memanjat pohon kedondong.

Tak ada yang bisa menghentikan:
kecuali Waktu. Kecuali waktu.

"Ah, siapa bilang begitu," kata Waktu.
Tapi, aku tak mendengarnya. Tentu.

Karena di Rumah Buku, aku terlalu sibuk
mencari-cari matamu. Yang hendak
kubaca lagi dengan setumpuk rindu...
tapi, akhirnya, lagi-lagi hanya tersesat
ke masa lalu.

"Rasain, lu," kata Waktu. Dan aku
lagi-lagi tak mendengarnya. Tentu.

/4/

DI ranjangku yang paling syahdu,
bertebaran buku-buku di sisiku.
"Salah satunya adalah kamu, Sayangku..."
kataku sambil menatapi sampul-sampul
itu satu per satu.

Yang paling mengganggu adalah engkau yang
bisa-bisanya menuliskan: Hei, DukaMu Abadi!

Yang paling seram itu adalah engkau yang
berseru nyaring: Hei, Orang-orang Terasing!

Yang paling riang adalah engkau juga yang
enteng bilang: Mengarang itu Gampang, Kok!

Tapi, setelah bertahun-tahun meniduri buku,
aku belum juga bisa menebak teka-tekimu.

/5/

WAKTU kecil, kalau ada yang bertanya, "Engkau
mau jadi apa?" Aku menjawab, "Mau jadi buku.."

Dan tak pernah ada yang bisa mengerti.

"Wah, bagus. Menjadi penulis buku itu hebat..."

Sesudah tua begini, masih juga ada yang bertanya,
"Apa keinginan Anda yang belum tercapai?" Aku
menjawab, "Menjadi sebuah buku..."

Keinginan yang juga tak bisa mereka pahami.

"Ya, ya... banyak orang yang di masa tuanya ingin
menuliskan buku. Anda juga masih punya waktu..."

/6/

TETAPI tidak ada yang bertanya:
kau hendak dimakamkan di mana?

Diam-diam aku sedang mempersiapkan
sebuah kematian yang paling sempurna:
dikuburkan di dalam buku. Engkau tahu?
Buku akan hidup abadi. Tak mati-mati!

Barangkali saja, kelak dalam perjalananku
dari halaman-halamanmu, duhai Bukuku,
duhai Kuburku, duhai Kekasih Abadiku,
bisa kutemukan pertanyaan teka-tekimu,
bisa kudengar apa saja yang dikata Waktu.

Sabtu, 14 Februari 2009

Kampoeng Sastra 07'


Sekilas, apa itu kampung sastra?
Kenapa ia begitu berarti dalam hidupku?

Kampung Sastra nama salah satu kegiatan penyambutan mahasiswa baru 2007 di fakultas ilmu budaya. Karena sudah setahun bersama kami berniat membentuk komunitas angkatan, nah karena tidak diberi nama angkatan oleh senior, kami memilih Kampung Sastra-lah yang menjadi namanya.
Alasan terbesar, karena lewat kampung sastra saya tahu ININNAWA, yang akhirnya mengenalkanku pada orang-orang hebat di sana, lalu terakhir saya bisa bergabung dengan mereka.
Kedua, di sana "Kampung Sastra" kutemukan saudara-saudara yang seide, suka berdiskusi, dan tentunya ada teman minum kopi di kala teman perempuan ohah minum kopi.
Warga kampung, kami tak ada yang malas, suka bekerja, persis lagu SLANK "di sini bukan tempat orang malas, tempatnya para pekerja keras, di sini bukan ana-anak manja, sedikit kerja, banyak pintanya"

Jumat, 13 Februari 2009

Bukan Pembangunan Rumah Beton


Ah, saya semakin yakin saja
sebentar lagi
kita akan mencapai puncak

tetap berpegangan
tetap dalam lingkaran
(ini bukan intruksi HARUS, namun itu harapan kita bukan?)


senang sekali, malam 7 Februari kemarin bisa berada di tengah warga kampung yang sedang berjuang mendirikan gubuk nan teduh

meski tak rampung dalam semalam
tak apalah

asal kita bahagia atas semua ini

kutunggu pertemuan sore minggu esok
lalu kita lanjutkan gubuk tertunda kemarin

sebentar lagi,
kita kan kaya dengan apa yang kita lakukan selama ini

tetap di situ
dengan kopi di sebelah kanan, sesekali mengisap rokok di sebelah kiri
bibir senantiasa melukis ide yang hendak kau bagi

ku pun demikian
kita berbagi
kita berdiskusi
kita merangkul
ini lebih dari saudara, sobat

::KAMPUNG SASTRA::


Catatan di Mace-Mace Sore kemarin

sekali lagi,
sambil menghangatkan tubuh dengan segelas kopi
kita pun berbagi
segala penat kota
panasnya ruang perkuliahan
payahnya ide orang besar
yang selalu mengecilkan kita

semakin mengikis tubuh
mereka melihat kita dengan mata pemberontak
bahkan satu diantara kita dianggap pemberontak
hahaha

terpingkal kita olehnya



Selasa, 10 Februari 2009

Langkah awal



Warga kampung sastra pada tanggal 5-6 Februari 2009 mengadakan acara seru!


Kamis:
Pemutaran film Freedom Writers
Diskusi
Pemutaran film Kala

Jumat:
Gelar buku (kampanye baca)
Diskusi



Senin, 09 Februari 2009

MEMBACA ITU SEXY


Setahun lalu…
SEMA mengadakan acara penyambutan MABA yang diberi nama “Kampung Sastra”.
Salah satu dari rangkaian acara Kampung Sastra adalah diskusi dengan tema “Membaca dan Menulis itu Sexy”.
Ketika peserta ditanya, “apa yang melintas di kepala anda ketika mendengar kata membaca?”


Sebagian besar peserta menyebutkan:
-Buku, Komik -Waktu
-Pengarang -Bosan
-Informasi -Hobby
-Perpustakaan, Kafe Baca -Suasana tenang
-Kuper -Kacamata
Selanjutnya, peserta ditanya lagi, “betulkah membaca itu membosankan?”
Ya dan tidak, alasannya:
-tebal -waktu kurang
-jenis bacaan -tidak banyak bergerak
-tidak menarik -Buku VS Televisi
-Bahasa tingkat tinggi
Pertanyaan terakhir, “pentingkah membaca?”
Banyak tanggapan, diantaranya:
-Cari pengetahuan -Dapat pemahaman
-Buku = Jendela dunia -Mengurangi kemiskinan
-Cari informasi -Menumbuhkan kesadaran diri
-Selangkah lebih maju -Dua langkah lebih maju
-tidak ketinggalan info -Membaca = Petualangan yang tak pernah selesai
Nah, jika dibandingkan, lebih banyak manfaatnya bukan?
Ayo, mulai dari sekarang membaca sesering mungkin!
Malu lah jadi mahasiswa yang jarang membaca.
Lantas apa hubungnnya dengan sexy? Makanya sering-seringlah membaca, anda akan temukan jawabannya.

Di kehidupan selanjutnya

Aku sedang belajar menjadi malaikat
Sebab kudengar
Setelah mati, pilihan bertambah satu
Berbahagia di Surga
Tersiksa di Neraka
Atau menjadi Malaikat

Aku pernah merasakan bagaimana hidup di surga
Saat semua orang yang kusayang memberikan perhatian padaku
Termasuk kau

Aku pun telah rasakan betapa tersiksanya di neraka
Ketika semua yang kucintai ternyata tak mencintaiku
Termasuk kau

Lalu kini,
Aku belajar menjadi malaikat
Jika semua yang kuharapkan cukup menjadi harapan
Tak banyak meminta
Termasuk kau

--Januari 2009--

Di kehidupan selanjutnya

Aku sedang belajar menjadi malaikat
Sebab kudengar
Setelah mati, pilihan bertambah satu
Berbahagia di Surga
Tersiksa di Neraka
Atau menjadi Malaikat

Aku pernah merasakan bagaimana hidup di surga
Saat semua orang yang kusayang memberikan perhatian padaku
Termasuk kau

Aku pun telah rasakan betapa tersiksanya di neraka
Ketika semua yang kucintai ternyata tak mencintaiku
Termasuk kau

Lalu kini,
Aku belajar menjadi malaikat
Jika semua yang kuharapkan cukup menjadi harapan
Tak banyak meminta
Termasuk kau

--Januari 2009--

Ulasan Buku Hiroshima


Setelah tiga hari, akhirnya buku ini kelar aku baca. Buku John Hersey, Hiroshima. Ini prestasi tertinggi yang aku capai membaca buku non-fiksi. Seandainya bukan tugas dari Kak Dandy, aku yakin buku ini masih berada dalam deretan buku yang kutunda untuk dibaca. Kebiasaanku akhir-akhir ini, menunda, menunggu waktu yang tepat untuk menyeleasikan bacaaan. Tanpa mencari kapan waktu tepat itu hadir.
Hiroshima adalah buku yang ditulis dalam bentuk jurnalisme sastrawi. Saya sadar, terlambat membaca buku ini. Hiroshima sendiri sebelum dibukukan telah dimuat di The New Yorker setahun setelah peristiwa bom di Hiroshima terjadi.

Adalah nona Sasaki, pendeta Tanimoto, dokter Fujii, nyonya Nakamura, pastur Kleinsorge, dan dokter Sasaki yang kisahnya diceritakan dalam buku ini. Keenam orang tersebut adalah sebagian orang yang beruntung selamat dari penbgeboman ganas itu.
Buku ini mengupas kisah keenam orang di atas sebelum dan setelah bom dijatuhkan.
Buku ini terbagi dalam empat bab.
Bab pertama yang berkisah tentang perasaan tak tenang selalu menghantui akibat peperangan. Perasaan was-was selalu hadir tiap saat, membuat mereka tak nyaman dan tak dapat beristirahat dengan tenang. Belum lagi berbagai masalah yang sudah muncul sebelum pengeboman terjadi. Keenam orang yang berbeda, masing-masing memiliki permasalahan yang berbeda pula. Mulai dari persediaan makanan yang terbatas sampai pada rasa lelah akibat pulang pergi ke tempat pengungsian saat sirine berbahaya dibunyikan, tau-tau tak terjadi apa-apa. Tak ada yang merasakan kenyamanan. Sampai pada saat bom dijatuhkan. Semua berubah. Dalam bab ini mendeskripsikan kisah apa yang mereka lakukan saat detik-detik sebelum bom dijatuhkan dan apa yang mereka lakukan setelah bom jatuh dengan menghadirkan sebuah kilatan putih dan mengguncangkan seluruh Hiroshima.
Bab selanjutnya yang oleh penulis memilih Api sebagai judul bab ini menuturkan kebingungan keenam orang ini atas apa yang terjadi. Menceritakan tentang usaha keras mereka menyelamatkan diri. Jatuh bangun agar bisa selamat dari reruntuhan yang menindih sebagian tubuh dari mereka. Saya yakin saat peristiwa itu terjadi ada yang menganggap bahwa saat itu adalah kiamat, pasti tak lama kemudian meralat anggapannya. Sebab mereka masih punya rasa tanggung jawab pada orang sekitar. Tak ada yang memeningkan diri sendiri. Sedangkan yang sering dikabarkan jika kiamat tiba adalah manusia tak saling peduli lagi.
Amat perih menyaksikan pemandangan menyeramkan seperti yang terjadi tangal 6 agustus 1945 di Hiroshima tepat pukul 8.15 pagi itu. Semuanya berantakan. Pendeta Tanimoto yang tak mengalami luka sama sekali sesaat tak percaya atas apa yang ia lihat, kemudian berlari menuju bukit agar bisa melihat seluruh permukaan lingkungannya. Ternyata bukan hanya di daerah tempat tinggalnya ia bisa melihat pemandangan aneh itu, tapi hampir seluruh Hiroshima, hancur dan berantakan. Pada bab ini juga menceritakan betapa sulitnya mencari bantuan medis dan tempat aman untuk berlindung sebab sangat kurang tempat yang layak untuk digunakan. Masing-masing berusaha menyelamatkan yang bisa diselamatkan. Bahkan dengan berat hati sebagian tak dapat mereka tolong saking banyaknya orang yang membutuhkan dan terbatasnya sesuatu yang bisa mereka korbankan untuk memberikan pertolongan. Banyak orang yang harus berhari-hari menunggu bantuan dan akhirnya meninggal dalam diam dan harap.
Bab ketiga mengisahkan bahwa penderitaan tak berhenti sampai saat itu. Setelah mengarungi penderitaan agar bisa bertahan hidup dan sembuh dari luka-luka yang mereka alami. Muncul masalah baru. Penyakit akibat radiasi mewabah. Hal itu menyebabkan orang di luar Hiroshima harus berpikir ulang untuk mengunjungi tempat pengeboman. Bantuan dari luar akhirnya berkurang. Ada tiga periode penderitaan yang disebabkan penyakit ini. Periode pertama ketika korban yang meninggal mendadak tanpa luka bakar, ini dapat diketahui pada hari pengeboman terjadi. Sepekan sampai dua pekan selanjutnya animea dan demam tinggi menjadi ciri pada periode kedua. Sedangkan periode ketiga penyakit ini adalah rontoknya rambut dan kemampuan berpikir mereka menurun. Pada periode ini pula banyak yang meninggal berminggu-minggu setelah pengeboman akibat dari komplikasi penyakit yang tak bisa diatasi. Pada bab ini pulalah satu kenyataan pahit harus mereka terima, penyataan kaisar bahwa perang usai dengan hasil kekalahan di pihak Jepang. Haru mengiringi tanpa ada yang saling menyalahkan atas terjadinya peristiwa ini. Di sinilah letak kecemburuanku pada mereka yang telah sabar dan tidak ada yang bertindak gegabah ketika penderitaan mengkudeta diri mereka. Bahkan rasa nasionalisme semakin berkobar di saat genting seperti ini. Banyak yang beranggapan bahwa apa yang terjadi pada diri mereka adalah wujud pengabidan pada negara.
Bab terakhir adalah masa-masa mengembalikan dan memulai hidup baru bagi mereka para korban. Kehidupan mereka berubah drastis. Banyak yang kehilangan, meski begitu mereka semakin kuat dan tabah. Mereka adalah pahlawan atas diri sendiri dan orang lain. Butuh berbulan-bulan untuk mengembalikan kehidupan mereka menjadi normal. Dari peristiwa ini mereka banyak mengambil pelajaran sehingga hal itulah yang membuat mereka berusaha agar bisa pulih dan memulai hidup untuk berhasil. Pada bab ini mereka mulai mengingat kembali kejadian perih itu. Bagaimana teman-teman mereka meninggal setelah menyanyikan lagu kebangsaan kimigayo.. Bagaimana perasaan para korban yang membenci orang Amerika. Bagaimana seorang wanita yang selama sembilan bulan merasa kesakitan akibat kaki kirinya yang patah lalu akhirnya pincang dan menerima kenyataan tunangannya tak menemuinya lagi. Juga tentang data para yang tak bisa diketahui akurat tidaknya. Namun diperkirakan ada sekitar 100.000 orang yang tewas dalam kejadian ini, sisanya luka parah dan luka ringan dari penduduk yang berjumlah sekitar 250.000 jiwa. Buku ini ditutup dengan kisah tentang perasaan seorang anak berusia 10 tahun yang turut menyaksikan peristiwa itu lalu dengan senang hati menulis esai tentang kesedihan atas apa yang ia saksikan.
Buku ini meski tak lagi hangat tapi menurut saya akan tetap cocok untuk di baca 10 tahun akan datang dan seterusnya. Sebab bukan hanya reportase belaka yang dihadirkan melainkan pelajaran moral yang amat berharga. Inilah kelebihan jurnalisme sastrawi menurutku.

Makassar, 20 September 2008



Rabu, 04 Februari 2009

Karya Sastra Jepang Klasik


1. Kojiki, ditulis oleh Oo No Yasumaro dan isinya bersumber dari Heida no Are
2. Manyooshuu, adalah kumpulan 4500 syair yang dikumpul oleh Ootomo Yakamochi
3. Genji Monogatari, novel yang ditulis oleh Murashaki Shikibu pada zaman Heian tahun 1001
4. Murasaki shikibu no nikki, buku harian dan koleksi puisi penulis Genji Monogatari
5. Makura no Sooshi, buku perenungan oleh Sei Shonagon pada zaman Heian, dan dikenal dengan sebutan BUKU BANTAL
6. Tsurezure Gusa oleh Yoshida Kenko yang berarti esai yang ditulis tidak selesai di waktu luang