Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.
Selasa, 23 September 2008
Kutunggu di Rumah Kenangan
Nak masihkah kau ingat rumah kita?
Berpagar bambu
Berwarna hijau
Kau ingat?
Kita merasa terhebat ketika menebusnya dengan uang dua juta delapan ratus ribu
Nak, rumah kita masih bernomor 10 di lorong 4
Tak berubah
Di halamannya masih kokoh bale-bale buatanmu
Jika malam merayap, kau menuntunku ke sana
Menikmati taburan bintang tepat di ubun-ubun kita
Nak, bukankah itu romantis?
Kini sanggupkah kau biarkan dirimu melupakannya?
Seberapa kuat kau bertahan menatap bintang tanpaku?
Hanya aku Nak
Hanya aku yang tahu semua itu
Bahkan melebihi gadis-gadis yang saat ini dipelukanmu
Nak, jika petualanganmu usai
Kembalilah ke rumah kita, beristirahatlah
Kapanpun itu
Aku kan menantimu
Sudah kusiapkan bantal kesukaanmu
Serta sisir pujaanmu
Pangkuan dan belaian jemariku
Maka, sekali lagi
Kembalilah jika kau ingin beristirahat
Atau sekedar melpas lelah
Lalu kembali berpetualang
Kan kuterima Nak
Biarkan ku memilih
hadirkan aku dalam kisah Sawerigading
Jika dibiarkan memilih tokoh dalam kisah Sawerigading
Kan kupilih menjadi We Nyilik Timo
Muncul dari laut dan di bibir pantai telah menunggu Batara Guru sang mempelai priaku
Tidak
Aku ingin menjadi We Datu Senngeng
Dari rahimku kan lahir Sawerigading dan saudara kembarnya yang cantik nan rupawan
Tapi
Kurasa lebih baik terlahir menjadi We Temmamala
Berkat nadzarku Sawerigading lahir dengan selamat
Ah,
Lebih kupilih menjadi I We Cudai
Mencuri hati Sawerigading dan ia mau melakukan apa yang kuminta
Bukan
Maksudku aku saja yang menjadi I We Cimpau
Selir Sawerigading, sabar merawat anak tiriku dari rahim I We Cudai
Namun,
Akhirnya kuputuskan menjadi We Tenriabeng saja
Bissu sejak dalam kandungan
Agar tak rumit hidup dan perasaanku di jerat cinta
Tentram di langit
Jika dibiarkan memilih tokoh dalam kisah Sawerigading
Kan kupilih menjadi We Nyilik Timo
Muncul dari laut dan di bibir pantai telah menunggu Batara Guru sang mempelai priaku
Tidak
Aku ingin menjadi We Datu Senngeng
Dari rahimku kan lahir Sawerigading dan saudara kembarnya yang cantik nan rupawan
Tapi
Kurasa lebih baik terlahir menjadi We Temmamala
Berkat nadzarku Sawerigading lahir dengan selamat
Ah,
Lebih kupilih menjadi I We Cudai
Mencuri hati Sawerigading dan ia mau melakukan apa yang kuminta
Bukan
Maksudku aku saja yang menjadi I We Cimpau
Selir Sawerigading, sabar merawat anak tiriku dari rahim I We Cudai
Namun,
Akhirnya kuputuskan menjadi We Tenriabeng saja
Bissu sejak dalam kandungan
Agar tak rumit hidup dan perasaanku di jerat cinta
Tentram di langit
Minggu, 21 September 2008
mati Setengah, setengah Mati
aku baru saja menyadari satu kesalahan telah terjadi
masih ingat aku pernah mengubur sesuatu?
ternyata ia belum mati
aku bersalah mengubur sesuatu yang baru mati setengah
tapi aku tidak bermaksud membunuh
sebab waktu kutanya ia tak menyahut
akhirnya kukubur saja
tapi,
ternyata ia masih hidup
bagaimana ini?
ia gentayangan
ia menghantuiku
setiap saat
bukan hanya di malam hari
oh tidak
aku tak bisa tenang karena itu
maafkan aku
aku,
aku, tak bermaksud membunuhmu
oh tidak
Minggu, 14 September 2008
sepekan bersama mahasiswa Seisen University dan Nagoya City University
あるく あるく
私 は げんき
あるこう は だいすきい
どん どん いうこう
Inilah sebait lagu yang dituliaskan Tommi(NCU) di buku Teddy bearku
lagu yang mewakili kesenangan kami berjala-jalan sepekan di Toraja-Pulau Barrang Lompo
tanggal 1-7 september 2008 adalah pekan kuawali Ramadhan di tempat yang belum pernah kukunjungi-Lembang Soloara, Batutumonga.
Spesialnya lagi karena saya bersama dengan Rombongan Field Trip dari Nagoya City University dan Seisen University.
Sungguh kisah yang sangat tak terlupakan.
Di Toraja saya bersama Kak Anna menemani rombongan yang terdiri dari 13 mahasiswa(i) beserta 2 dosen dari Nagoya City University dan 13 mahasiswi beserta 2 dosen dari Seisen University, plus 3 mahasiswa Sastra Jepang UNHAS yang tak lain adalah senpai-senpaiku (senior). Hari pertama ada pesta panen, sungguh kebetulan yang menguntungkan. Banyka pengetahuan yang bisa kami dapatkan dari acara itu, dari melihat ritual masyarakat berdoa di gereja sampai acara massemba yaitu gulat kaki khas Toraja. Hari kedua ke PT. Toarco Jaya, perusahaan kopi Toraja yang cukup terkanal dan bekerja sama dengan Key Coffee Jepang. Di sini juga seru, semua proses kopi bisa kami saksikan, mulai dari petik biji kopi sampai kopi dihidangkan di sebua cangkir. Hari ketiga waktunya mengikuti kegiatan warga Lembang (desa). Malam harinya saya beserta 3 dosen dan 19 mahasiswa Jepang beserta 3 orang mahasiswa UNHAS berangkat menuju Makassar. Sisanya yaitu Kak Anna, Pak Shintaro, dan mahasiswanya 7 orang masih tinggal di Toraja, alasannya ingin lebih banyak belajar tentang Toraja.
Langganan:
Postingan (Atom)