Akhir-akhir ini
tiap lembaran kalender berganti
kulalui dengan banyak hal, tanpa terlupa MENANGIS tentunya
Ya, menangis kini menjadi ritual harianku
selalu saja ada yang mampu membantuku mengeluarkan air mata itu
kalaupun tak ada alasan, kan kupaksa...
ia telah menjadi candu
Berikut beberapa petuah orang terdekat mengenai tangis...
"Menangis itu keren banget! selalu membuat kita lega, lebih bahagia,
dan menyehatkan (mata lebih bersih)
yang terpenting juga, kita selalu bisa membuat sungai sendiri yang
terus mencari muaranya."
-Anwar J Rachman-
"Nangis itu sehat dan sebetulnya nikmat."
-Aan Mansyur-
"Kalau rasa sakit itu bikin kita menangis yah menangis saja, ikuti saja
karena dia akan membawamu ke kebahagiaan."
"Airmata itu untuk kebahagiaan dan kesedihan sekaligus."
-Mansyur Lelaki Bugis-
"Tangisan itu menjadi bumbu penikmat cerita yang belum ada akhirnya ini
sehinnga orang yang membacanya asyik dibuai.
Tangisan awal kebahagiaan."
-Andi Diah Masitah-
Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.
Rabu, 25 Juni 2008
Minggu, 22 Juni 2008
ketika Sang Raja bertamu
Air terjun itu masih saja mengalir
Setelah kau ajak pegangan ini ke halamanmu
Menikmati suguhan teh segar
Lalu kau bertamu dirumahku, di istanaku
Berteduh melepaskan lelah
Air terjun masih tetap mengalir
Tapi hukum alam penyebabnya
Sebab gunung lebih tinggi dari dataran
Si rendah yang mengajak air berlari
Meninggalkan petuah gunung
Akankah kau tahu
Semua kusuguhkan agar kau mau tetap di sini
Bertamu di istanaku
Karena kau adalah raja
Dan aku hanyalah rakyat jelata
Setelah kau ajak pegangan ini ke halamanmu
Menikmati suguhan teh segar
Lalu kau bertamu dirumahku, di istanaku
Berteduh melepaskan lelah
Air terjun masih tetap mengalir
Tapi hukum alam penyebabnya
Sebab gunung lebih tinggi dari dataran
Si rendah yang mengajak air berlari
Meninggalkan petuah gunung
Akankah kau tahu
Semua kusuguhkan agar kau mau tetap di sini
Bertamu di istanaku
Karena kau adalah raja
Dan aku hanyalah rakyat jelata
Rajut
Saat senja mulai merajut benang hitam
Saat itu pula embun mulai terajut di pipiku
Sebab senyum terakhir yang kau rajut begitu indah
Saat itu pula embun mulai terajut di pipiku
Sebab senyum terakhir yang kau rajut begitu indah
Langganan:
Postingan (Atom)