Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.

Sabtu, 28 April 2012

Perasaan dulu Dos, terus apa lagi itu Windows?




Kira-kira seperti itu pertanyaan yang muncul di kepalaku saat belajar menggunakan komputer di ruangan Osis SMA. Seingatku, saat SMP, pertama kali menyentuh barang yang bernama komputer itu sistem yang diperkenalkan bernama Sistem DOS. Atau saya yang salah ingat?
Seperti itulah hubungan saya dengan mesin canggih satu itu. Saat saya kelas satu SMP pada tahun 2001, masih sebagai siswa baru di SMP Negeri 1 Makassar ada pelajaran Keterampilan Komputer, kami wajib membeli sebuah buku bersampul biru dengan gambar perangkat komputer, ada tulisan Pengantar DOS di sana. Yang membuat saya takjub saat itu, kami bisa menyimpan beberapa data mengenai sahabat kami. Pekan depan saat pelajaran Keterampilan Komputer itu tiba lagi, data itu masih tersimpan, “Huaaaaaaaa hebat sekali benda ini,” pikirku saat itu.
Sayangnya saya harus pindah sekolah ke kampung mamaku pada caturwulan ke-2, padahal saya belum juga mengerti kenapa data saya masih tersimpan dalam sebuah kotak bernama komputer itu selama berhari-hari? Apa penyebabnya?
Bersekolah di kampung, tentu saja tak bisa menemukan laboratorium komputer seperti yang ada di Makassar. Saya pindah ke sekolah SMP Negeri 2 Pitumpanua, sebuah sekolah yang cukup jauh dari ibukota kecamatan. Maka saya pun mengubur rasa penasaran terhadap benda satu itu.
Beruntung saat SMA di tahun 2005, saya bisa bersekolah di sebuah SMA yang fasilitasnya cukup lengkap. Lokasinya berada dalam ibukota kabupaten, tepatnya di SMA Negeri 3 Sengkang, Wajo.
Saya menjadi pengurus Osis yang ruangannya dilengkapi fasilitas komputer. Jadilah tiap hari saya pulang sampai sore dari sekolah hanya karena harus menunggu giliran menggunakan komputer, sekedar belajar. Beberapa temanku yang bersekolah di SMP kota Sengkang, sudah lancar menggunakannya. Di SMP mereka disediakan laboratorium komputer. Tertolonglah saya dengan bantuan mereka.
Saya heran sekaligus senang karena sistem operasinya sudah menggunakan Windows, itupun baru kutahu beberapa tahun setelahnya. Kita tidak perlu meng-input kode-kode sebagai perintah atau semacamnya ala DOS untuk menyimpan data. Berkat komputer itu, saya bisa mengetik cerpen-cerpen yang selama ini kutulis tangan. Dan bisa mengirimnya ke Makassar untuk dimuat koran-koran, sebab syaratnya cerpen yang dikirim harus dalam bentuk print out bukan tulisan tangan. Walau akhirnya lebih banyak ditolak daripada dimuat juga, hehehe.
Saat kelas tiga SMA, saya sudah lancar mengetik ini itu. Maka, saat mahasiswa baru di tahun 2007, dengan mantap orang tuaku merespon baik saat saya bilang ingin membeli laptop, karena saya sudah bisa menggunakannya. Setelah menjual rumah yang di Makassar dan mereka memilih menetap di Toraja, saya kebagian jatah untuk membeli laptop di awal ramadhan tahun 2007 dari hasil jual rumah kami.
Saya membeli Acer Aspire 4315 atas saran teman kost yang berkuliah di STIMIK Dipanegara. Hal yang utama bagi saya dalam memilih laptop saat itu adalah webcam. Hahaha… dengan begitu saya bisa memotret diriku sendiri, lantaran handphone ku saat itu tidak memiliki kamera. Saya tidak tahu sama sekali perihal spesifikasi dan semacamnya. Yang kutahu saat itu, saya butuh laptop untuk mengetik tugas, bermain game, berfoto, mendengarkan musik, memutar CD atau DVD, dan terjun di dunia maya, itu saja.
Hingga kini laptop itu masih kugunakan, bahkan dalam mengetik tulisan ini. Meski sudah banyak bagiannya yang tidak berfungsi. Bagiku, laptop ini adalah pengganti rumahku. Saya menyimpan banyak kenangan di sini.
Laptopku sering bermasalah, kena virus lah, tidak bisa connect dengan internet lah. Dan satu-satunya tempat yang kutuju jika ada masalah dengan laptop ku adalah tempatku membeli laptop tersebut di MTC. Saya harus mengeluarkan uang minimal Rp 50.000 tiap kali memperbaikinya. Padahal bisa saja kerusakannya tidak begitu parah.
Nah, beruntung sekali lagi saya dapat pacar yang senang mengutak atik komputer. Jadi tiap kali ada masalah pada laptopku, dia yang mengatasinya. Hehehe…
Kembali persoalan DOS dan Windows, sampai saat tulisan ini kubuat, saya tidak begitu paham tentang keduanya. Sungguh! Mungkin setelah mem-posting cerita ini, saya akan mencari tahunya. ;)

Minggu, 11 Maret 2012

Kurns, Saya Mencintai Akbar

Saya bertemu dengannya pertama kali saat perayaan May Day tahun 2008. Dia melemparkan senyum, tentu saja kubalas dengan cepat. Saat itu rambutnya masih sangat panjang, terurai. Hari itu kulihat dia sangat bersemangat, hingga perayaan usai, kami berada dalam angkot yang sama, perjalanan pulang. Setelah itu, saya tak pernah lagi bertemu dengannya. Toh, saya pun tak tahu siapa dia, tak ada alamat yang tersisa untuk mencaritahu siapa dia, dan saat itu saya tak punya urusan dengannya.

Barulah sekitar satu tahun kemudian, sekitar bulan Februari 2009, saya menemukan fotonya bersama seorang temanku di suatu jejaring sosial. Sedang menggunakan toga, dikelilingi oleh temannya. Kutanyalah temanku, namaya Dedi. Dedi kemudian menyebutkan namanya, lalu berceritalah Dedi bahwa yang wisuda itu bukan dirinya, melainkan kakaknya.

Setelah itu saya melihatnya pertama kali di kolong, fakultas Sastra Unhas. Saat sedang menikmati kopi bersama Lalat dan Nunu, dia datang menawari buku. Saya antusias mengenai buku itu, Lalat dan Nunu santai saja, padahal saya tak pernah berkenalan dengannya. Toh kemudian, cuma saya yang membeli buku yang ia tawarkan tersebut. Lalu saya meminta nomor hp nya lewat Amin, dengan maksud menagih pembatas buku yang ia janjikan beserta poster-poster yang katanya sebagai bonus buatku. Setelah itu, urusan kami selesai.

Lalu beberapa hari kemudian kami terlibat komunikasi kembali, gara-gara film. Saat itu, saya bersama teman-teman Kamp0eng Sas7ra mengadakan bedah film dan perpustakaan mini di fakultas. Saya bertugas mencari film dan menyediakan buku. Seorang teman, Wahyu, menyarankan untuk mencari film Into the Wild kepada dia, katanya dia mengoleksi film-film keren. Jadilah kami semakin sering berkomunikasi, bahkan setelah kegiatan usai. Kami sempat saling bersapa melalui email, namun kemudian dia menyerah lantaran baginya tak masuk akal kami selalu bertemu dan komunikasinya lewat dunia maya. Sepakatlah kami untuk berbincang-bincang secara langsung. Perbincangan kami selalu berlangsung lama dan tentunya selalu menarik. Dia tak suka terlibat pada diskusi yang membuat kening berkerut, begitu pula dengan saya. Setelah melewati berbagai obrolan seru, sepakatlah kami untuk jalan bersama tanpa ritual tembak menembak.

Kurang lebih seperti itu awal pertemuan kami, melalui buku dan film. Saya sangat mengaguminya karena ketertarikannya pada banyak jenis bacaan yang menarik. Dia selalu saja memberi rujukan buku-buku keren untuk kubaca. Saya sangat menyenangi laki-laki cerdas seperti dia.

Tahun lalu ia memutuskan untuk berhenti kuliah. Tentu saja ini bukan hal yang begitu mengejutkan bagi saya, terlebih mamanya. Konon, saat berumur sekitar 5 tahun, saat ia ditanya akan menjadi apa? Dia menjawab ingin menjadi penjual bakso, ia memiliki keranjang sebagai gerobak bakso dengan botol bekas kemasan bedak yang dijadikan sebagai botol kecap dan sambal untuk bermain. Namun beberapa tahun kemudian, cita-citanya berubah, TAK INGIN JADI APA-APA. “Memang saat anak-anak lain berlomba-lomba menyebut dokter sebagai cita-citanya, anakku yang satu itu malah bilang tidak mau jadi apa-apa,” kenang mamanya.

Kami selalu saling mendukung satu sama lain. Dia selalu saja memberikan sesuatu yang bermanfaat pada tiap ketertarikanku. Misalnya, saat senang bermain origami dan craft, dia mendownload-kan banyak tutorial tentang itu, tiba-tiba saya tertarik ikut komunitas sketsa dia pun dengan senang hati mengantar jemput di saat dia sempat serta mencarikan panduan-panduan membuat sketsa, jika ada musisi yang kugemari dia pun akan mencarikan lagu-lagu pesananku kadang lengkap dengan videonya. Saat ini saya bekerja sambilan sebagai editor, dia pun selalu memberikan rujukan bacaan mengenai bahasa dan penggunaannya. Sedangkan buku dan film? Tak usah ditanya, saya adalah perempuan paling beruntung karena selalu mendapat kejutan darinya.

Kami sama-sama senang menulis, senang membaca, senang mendengar musik, meski pada banyak hal kami berbeda. Tapi dia adalah pacar yang bijak, sangat bijak. Berkali-kali saya melakukan kesalahan, dia menanggapinya dengan baik, tidak dengan marah, mungkin karena usianya yang lebih tua dua tahun. Dia sangat dewasa menghadapi segala hal. Dia cukup pendiam, memilih diam. Itulah sebab banyak orang yang menganggap saya beruntung karena jarang ada perempuan yang bisa akrab dengannya, dia terlalu dingin katanya. Tapi saya banyak belajar darinya, pada banyak hal. Tentu saja dialah orang yang paling berpengaruh pada hidupku saat ini, tiga tahun belakangan. Saya berhutang banyak padanya (materi dan non materi, hahaha…).

Dia satu-satunya pacar yang kukenalkan pada orang tuaku, pada keluargaku. Dia membuat saya yakin dan memilih untuk hidup bersama dengannya, tentunya sampai kami berdua bisa bertahan. Dia mengajarkan saya untuk tidak bergantung kepada siapa pun. Kami adalah manusia yang tak suka pada hal-hal yang mengekang kehidupan kami, dan berusaha untuk tidak membiarkan satu pun menentukan langkah-langkah kami. Bahkan urusan perasaan sekali pun. Selama bersamanya, saya bahkan pernah jatuh cinta pada laki-laki lain. Tentu saya punya hak, dan dia tidak menentangnya sama sekali, meski saya tahu dia bisa jadi sakit hati. Toh, kami selalu membicarakannya dan menyelesaikan jika ada masalah yang terjadi, jika tak bisa berbicara secara langsung, surat adalah alat terampuh.

Saya pernah mencintai seseorang yang calon pacarnya memanggilnya kecebong jangkung, saya juga pernah jatuh cinta pada seorang maba yang dengan polos meminta diajari pacaran ala orang dewasa. Keduanya memiliki dunia berbeda dan masing-masing menarik. Meski kemudian tidak ada yang terjadi setelahnya, sebab tentu saja mereka tak bisa menerima kalau saya lancang jatuh cinta pada mereka sedangkan saya juga memiliki pacar. Toh, saya juga belum pernah memikirkan untuk menjalin hubungan serius dengan mereka, saya belum punya alasan lebih untuk memilih mereka dibanding dengannya, pacarku.

Tentu kami juga kadang-kadang membayangkan dan membicarakan tentang sebuah ikatan pernikahan, merancang-rancang akan hidup seperti apa nantinya. Tapi itu kadang-kadang, lebih banyak kami memilih untuk melupakannya, lebih banyak kami merancang apa lagi yang bisa diraih hari ini? Hal menyenangkan apa lagi yang bisa dilakukan hari ini? Sebab hari esok pun belum tertulis…

Saya selalu merasa berkecukupan dengan kehidupanku saat ini. Mengenal keluarganya yang hangat, sambutan orang tuaku tentangnya yang baik, berbagi dengannya dan menghabiskan banyak waktu beriringan dengannya membuat saya hidup, semakin hidup!

Oya, saya lupa mengenalkannya pada kalian, namanya Akbar. Namun, konon dengan nama itu dia sakit-sakitan, akhirnya namanya diganti. Dia berulang tahun hari ini, kami selalu berusaha memberikan sesuatu dari hasil karya kami, buatan kami. Tapi kali ini sepertinya kadoku menyusul, tak tepat waktu.

Saya yakin dia tidak begitu suka cerita tentang kami disebar seperti ini, tapi saya hanya ingin berbagi kebahagian saya dengan banyak orang. Kebahagiaan saya mempunyai teman jalan seperti dia. Itu saja! Because happiness only real when share ;)

Dear you, seperti yang selalu kau katakan, seberapa hidupkah kau di usiamu hari ini?

Rabu, 29 Februari 2012

Dari peluncuran buku 9 PENGAKUAN




Ini peluncuran buku yang kutunggu dan mengensankan karena bisa bertemu penyair favorit yang juga temanku, jadi serasa kumpul kangen begitu...hehhehe...

Senin, 09 Januari 2012

Bukan sekedar SAMPAH!


 
           Yeah, akhirnya KKN ku selesai juga, lumayan hanya satu setengah bulan (KKN biasa paling cepat 2 bulan loh!). Namanya KKN Kemitraan Penanganan Sampah Kota Makassar, salah satu bentuk Kuliah Kerja Nyata di Unhas selain KKN Profesi, KKN Pemberantasan Buta Aksara dan KKN Regular. 
Padahal, sebelumnya saya sangat berkobar-kobar ingin KKN di Tobucil, sudah dapat lampu hijau di pihak orang tua dan Tobucilnya , tapi semester lalu SKS ku masih belum cukup. Lalu, setelah gagal KKN di Tobucil, pilihan yang kuanggap paling masuk akal adalah KKN di Kampung Buku, tempat kerja sendiri. Sisa menunggu waktu, semester depan. Sebab, saya sangat tidak berminat KKN regular, hehehe. Menurutku KKN Regular itu hanya cocok untuk orang yang selama ini tinggal di kota, tidak pernah rasakan hidup di desa. Lah saya? Asli dari kampung, mending KKN yang pasti-pasti saja kerjanya, ya di Kampung Buku. Bukan di instansi-instansi yang konon kabarnya hanya sebagai tukang fotocopy kerjaannya (ini kabar yang mayoritas terdengar nah! Hehhe…)
Tiba-tiba ada kabar tentang KKN yang sementara kujalani ini. Tanpa berpikir panjang (meski awalnya merasa bingung, memang ada KKN Sampah?), saya langsung mengurus segala persyaratannya. Ikut seleksi dua tahap dan akhirnya lolos. Lumayan, supaya bisa cepat selesai kuliah.
Nah, apa yang kulakukan selama hampir dua pekan ini? Cukup berat ternyata. Siapa bilang permasalahan sampah ini sangat sepele? Pekan pertama, kami berkumpul bersama seluruh Ketua RW dan Ketua RT, mendengar keluhan dan saran tentang bagaimana memulai menangani sampah di Kelurahan Rappocini. Nah, beda wilayah beda masalah tentunya. Dengan anggota 18 orang, cukup banyak kelihatan, tapi tentu kami tidak serta bisa langsung menanganinya layaknya membalik telapak tangan.
Sampah itu masalah rumit. Arus dan siklus perputarannya panjang. Penanganannya lebih susah pastinya. Bukan masalah penataan kota yang kuperhitungkan, itu nomor sekian. Tapi kasihan saja pada bumi yang menampung banyak sampah tiap harinya. Tentu saja hal utama penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pemilahan sampah yang benar, ketidakpedulian untuk mendaur ulang barang-barangnya, serta sikap konsumtif yang semakin tinggi dan tentunya sampah menggunung adalah hasilnya.
Jauh sebelum ikut KKN ini, saya sudah memantapkan diri untuk jadi semacam orang yang ekologis (cocokmi istilahnya?). Berusaha membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan kantong kresek dengan cara SAY NO saat belanja di warung-warung, dan mengumpulkan sampah-sampah yang masih bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih keren. Kurang lebih seperti itu J
KKN ini asli berjalan mulus dan sangat seru! Beruntung sekali saya satu posko dengan teman-teman yang keren dan gila. Dan supervisor yang selalu bilang “santai saja…” Complete!
Kami terdampar di kelurahan Rappocini, dan memilih untuk mondok di rumah ketua RW 3, Daeng Tola. Satu-satunya posko yang tidak bertempat di Kantor Lurah. Ada untungnya juga Kantor Lurah Rappocini sedang direnovasi. Kami bebas cerita-ribut-ketawa dan main kartu bersama Dg.Tola tanpa perlu khawatir ada yang menegur. :P
Semua proker berjalan lancar. Terutama proker individuku. Saya memilih yang tak jauh dari keseharianku, recycle and craft! Saatnya berekspresi bukan?
Saya memilih Taman Kreatif sebagai nama program kerjaku. Setiap pekan saya mengadakan Taman Kreatif di tiap RW. Ada lima RW di Kelurahan Rappocini. Jadi, pas dengan jadwal KKN ku. Taman Kreatif kurancang tiap kali berjalan itu selama dua hari. Hari pertama lapak buku bacaan anak, sambil mewarnai dengan harapan ini menjadi penarik perhatian anak-anak di awal. Besoknya, saya meminta mereka dating masing-masing membawa botol plastic bekas, untuk disulap menjadi aksesoris cantik. Ada gelang, gantungan kunci, penjepit rambut, dan pin. Syukurnya, semua orang tertarik dan antusias.
Besok, laporan KKN akan kusetor, setelah itu rangkaian KKN ku selesai. Cukup sedih juga berpisah dengan 17 teman yang keren itu. Dan yang lebih keren, mungkin posko kami satu-satunya yang paling gencar bikin acara bersama. Bakar-bakar ikan, karaokean, wisata kuliner bareng, dan merayakan ulang tahun. Selama KKN ada 7 orang yang berulang tahun loh! Termasuk saya yang berhasil dikerjai sama mereka sampai menangis dan ber-efer mata bengkak dua hari L
So, sampai jumpa teman-teman RAPer mania (istilah keren anggota posko kelurahan Rappocini). Mula, Suku, Susu, Rul, Ollenk, Eca, Nisa, Riska, Ihsan, nDika, Hera, De, Sandi, Dedi, Rara, Ullyl, plus Dwi :p

Minggu, 18 Desember 2011

Mari Baca Fabulinus Zine #2

Hey...Hey...Fabulinus Zine #2 telah muncul ke permukaan. 
Kami menulis dan berbagi banyak hal tentang proyek D.I.Y
Saya menulis tentang cara membuat sabun sendiri, berbekal pengalaman satu kali membuat sabun mandi. Dicoba yah. Oya, saya punya beberapa alatnya, kalau mau dipinjam juga boleh, call me saja ;)

Kamis, 08 Desember 2011

Surat Untuk Maha



Untuk Maha,

Hai, jika Maha heran, siapa saya? Kenapa bisa menuliskan surat untuk Maha. Maka jawabannya adalah, saya salah satu pembaca setia blog yang dibuat oleh Papa Bebi dan Ibu Maha. Itu saja. Tapi, serasa telah memiliki ikatan batin, Maha seperti bagian dari keluargaku, bagian hidupku.
Beberapa bulan belakangan, ada dua anak yang selalu membuatku rindu membaca kisah-kisah terhangatnya, yaitu Maha dan Kaila. Kalian sukses membuat saya selalu penasaran, seperti saya yang selalu menunggu buku terbaru Dee. Layaknya Papa bebi yang menunggu lagu-lagu terbaru Jenni. Hehehe…
Seingatku, hingga saat ini kita baru dua kali bertemu. Itupun secara kebetulan di UKPM. Selebihnya, saya banyak tahu tentang Maha melalui dunia maya. Melalui video-video yang di upload di facebook, melalui foto-foto yang diselipkan orangtua Maha di tiap postingan blog.
Tentu saja membuat saya cemburu. Pasti Maha senang punya kotak berharga penyimpan segala cerita bernama ‘www.bapakmaha.blogspot’.com. Tiap saat, Maha bisa menyelami kisah-kisah kecil yang tak mungkin semuanya bisa tersimpan baik dalam ingatan anak. Besar nanti, Maha akan banyak belajar dari kisah-kisah yang dikemas baik oleh orangtuamu. Menitikkan air mata membaca perjuangan-perjuangan sepele namun sangat berarti besar dari kedua orang tuamu. Tentu saja akan membuatmu semakin bisa memaknai hidup.
Suatu hari nanti Maha akan seperti ini “Dengan wajah menghadap ke depan dan pikiran menghadap ke belakang, kau tampak seperti mobil yang sedang mundur dengan lampu depan menyala terang” kata Tiya dalam buku yang ditulis Samarpan.
Saya banyak belajar dari tutur Papa Bebi dan Ibu Maha. Belajar menghadapi seorang anak dengan cinta, dan tentunya juga saya belajar menjadi anak yang lebih baik. Kadang juga menitikkan air mata setelah membaca kisah haru Ibu Maha. Dan menyadarkan bahwa menjadi orang tua, terlebih ibu itu tidak mudah. Orangtua Maha punya semangat yang besar, Maha harus bangga dan kelak memiliki semangat yang sama. Kadang saya jadi pesimis sendiri, kelak kalau punya anak, apakah bisa merawat dan membesarkannya dengan baik? Sepertinya saya harus belajar tegar dan kuat seperti Ibu Maha dulu baru bisa berpikir untuk punya anak. 
Saya menjadi saksi Maha tumbuh dari hari ke hari, menjadi lebih mandiri, menjadi anak yang cerdas. Pasti sangat bahagia memiliki keluarga kecil bernama cinta.
Selamat Ulang Tahun Maha, tumbuh cerdas dan tangguh! Jangan sia-siakan orang terkasihmu. Masih mengutip dari buku Tiya ‘Hidup itu tentang pernyataan yang tegas’ dan juga ‘dia yang berani berteriak tegas yang bertahan’.

Minggu, 27 November 2011

Toko Wijaya, tempat berburu komik bekas di Makassar

 Masih ingat ceritaku tentang Yoko Shoji? Juga tentang surat untuk Nakki kemarin? Jadi tak perlu saya jelaskan ulang tentang keduanya. Yang ingin kuceritakan saat ini adalah di mana saya bisa menemukan keduanya. Pertama kali, saat SMA, saya menemukan komik Pop Corn di salah satu penjual mainan anak di pasar Tempe, Sengkang. Di bagian depan tokonya ada sekardus komik bekas dipajang dengan label harga Rp.2500,- rata.
Kali kedua, saya menemukannya di Toraja, di agen majalah dan tabloid dekat pasar Makale, kebetulan menyediakan komik bekas juga. Saya bisa menambah koleksiku beberapa seri, meski harganya lebih mahal, yakni Rp.5.000,-. Dari Iwan (pemilik agen majalah itu), saya diberi informasi bahwa untuk menambah koleksiku, saya bisa mengunjungi toko Indah Jaya jalan Laiya dan Toko Wijaya (saya lupa nama jalannya, yang jelas depan sentral, jalur pete-pete B Makassar, kalau tidak salah sih jalan Timor).
Sekitar dua tahun lalu, waktu baru-baru jadian dengan Kurns, kami hobby hunting toko-toko buku waktu itu, mengunjungi Toko Wijaya. Dengan penuh harap, tapi ternyata tak ada satupun seri Pop Corn. Begitu juga di toko Indah Jaya. Nihil.
Sempat saya ingin membelinya melalui toko buku bekas online Dedo. Tapi lumayan mahal menurutku, jadi ditunda. Sampai saat bulan Januari kemarin, saat Kurns kembali dari Jakarta, membawakan setumpuk buku oleh-oleh, ada dua seri Pop Corn diantaranya. Sayangnya, karena salah komunikasi, seri yang dibelinya justru yang sudah kumiliki. Tapi tentu saja tak mengurangi rasa senangku. Dia berjanji, kalau ke Jakarta lagi akan membelikanku seri yang lengkap. Hehehe...
Nah, sekitar bulan lalu, saya bersama Sheni jalan-jalan ke Toko Wijaya. Iseng-iseng singgah sepulang memesan tiket buat traveling kami bulan Maret nantinya ;)
Iseng-iseng berhadiah ternyata, di sana sudah ada seri Pop Corn lengkap. Sampai kering gigiku gara-gara senyum puas melihat tumpukan komik itu. Tapi, ternyata pemirsa, saya harus membeli ke 26 seri jika ingin membelinya dengan harga Rp.5000,-/komik. Tentu saja saya hanya ingin membeli beberapa, seri yang belum kumiliki saja. Akhirnya saya pasrah dengan tawaran Rp.10.000,-/komik. Isi dompetku hanya cukup membeli dua saat itu.

Setelah kuceritakan pada Kurns, ternyata dia mau membelikan saya semua serinya saat terima gaji, cihuyyyy...
Namun, setelah gajinya di tanganku, entah memang tak jodoh, tiba-tiba dispenser ku rusak. Saya harus membeli baru, dengan konsekuensi batal membeli komik. Harus menabung lagi, atau menunggu Kurns berbaik hati membagi gajinya lagi, hahaha...
Jika ada yang mau mencari komik bekas, saya sarankan ke sana deh! Tapi jangan mencari plang TOKO WIJAYA di depan rukonya, karena kalian tak akan menemukannya :) Cukup cari di Jalan Timor nomor 116, kalau tidak salah, dan numpang tanya sana sini saja :)

NB:Dan jika kalian berbaik hati, belikan saya seri Pop Corn selain 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 14, 17, dan 20) hehehe...ayolah :)

Sabtu, 26 November 2011

5 hal penting saat SMP


Kemarin saya kaget pas cek blog, kenapa tiba-tiba si HimaRain menuliskan pesan dalam chat box ku tentang PR?
Setelah cek ke blognya, ternyata PR yang dimaksud adalah ‘menuliskan 5 pengalaman pas SMP’.
Tentu saja saya tak butuh waktu lama mengingat semuanya, karena bahkan lebih dari 5 pengalaman ter-seru ku selama SMP. Dan pastinya sangat susah dilupakan (hihihi…lebay)
Langsung langsing mi nah…
1.       Poin 1 dan 2 ini adalah pengalaman waktu saya masih SMP di Makassar, tepatnya di Spensa Makassar jalan Baji Areng. Pertama kalinya saya bolos sekolah waktu SMP ini, kelas satu, masih status siswa baru (masih hangat malah…pisang goreng kapang?). Tapi bukan bolos belajar melainkan bolos Pesantren Kilat yang diadakan OSIS saat bulan puasa. Hari itu adalah hari pertama puasa dan bertepatan dengan ulang tahunku yang ke-12 kalau tak salah. Si Masdar sang ketua kelas yang menginisiasi bolos barengnya, kita ramai-ramai ke Mall Ratu Indah sekedar cuci mata dan pulang. 
2.       Saya membawa buku Biografi Nike Ardilla yang baru dibeli oleh tanteku ke sekolah, untuk kuperlihatkan ke temanku Siti Ainal (kalau tak salah, dia salah satu pengagumnya). Tapi saya lupa mengambilnya di laci meja. Besoknya, buku itu sudah hilang. Sampai sekarang orang di rumah tidak tahu kalau saya yang menghilangkannya, hihihi…mudah-mudahan tak ada keluargaku yang membaca postingan ini (licik :p).
3.       Poin ke-3 sampai 5, tentang keberadaanku di SMP Negeri 2 Pitumpanua, saya pindah ikut mamaku pulang kampung. Awalnya, saya mengira akan jadi anak pindahan yang tak punya teman. Ternyata, hari pertama saya disambut baik sama teman-teman yang hingga saat ini kami masih menjalin persahabatan erat. Kami menamakan kelompok kami ‘Star Five’ hahhay. Mereka adalah Wulan, Cemma, Wana, Tuti. Belakangan bertambah satu yaitu Cimma.
4.       Seperti si Hima Rain, saya pertama kali suka sama seseorang pada saat SMP kelas 2, sebut saja dia Edeb. Hihihi…tapi kami tak sempat pacaran meski sebenarnya saling tahu. Dia juga punya genk (Yosep, Hamzah, Bahtiar, Aswar) dan kedua genk (ciaaa…anak genk genk…) kami selalu bersama-sama. Sampai sekarang, saya masih berkomunikasi dengan dia. Tapi hanya saling menertawai kalau ada yang memulai mengingatkan jaman SMP, jadi malu sendiri, hehehe.
5.       Nah yang paling seru, Star Five ini pernah menjadi mata-mata seuruhan guru-guru cewek untuk menguntit salah satu guru cowok kami yang sudah punya anak dan diduga menjalin hubungan dengan salah seorang teman kelasku. Jadilah kami detetktif cilik, hahaha….
Terakhir, saya menemukan jalanku untuk fokus di dunia bahasa dan sastra itu gara-gara keseringan ikut lomba baca puisi waktu SMP ini.

Ah, kenapa cuma 5 sih? Padahal saya mau menulis lebih banyak, hohoho…
Thanks PR nya Hima Rain, dan selanjutnya saya meneruskan PR ini kepada Rhul dan Hitam Pekat 

Saya di sisi lapangan basket dari dulu hingga kini!

Dear Nakki*

Jangan menanyakan perihal aturan dalam pertandingan bola basket pada saya. Meski kita selalu bertemu di pinggir lapangan, menyaksikan permainan para pemain basket. Usah heran, saya memang menggemari permainan basket, tapi saya sekedar menonton. Itu saja.
Sebagian masa remajaku terisi dengan cerita-cerita tentang bola basket. Kau pasti tahu tentang ini.
Saya bersekolah di SMP Negeri 1 Makassar, saat pemilihan kegiatan extrakurikuler, pilihanku bola basket.  Belum sempat latihan, saya terpaksa pindah sekolah karena ikut orang tua, pulang kampung.  Ini hal pertama yang menghalangi keinginan saya bermain basket. Bersekolah di desa, akibat pembangunan tak merata, di sana tak ada lapangan basket. Bola basket ada, tapi pun jika saya jago seperti kau, tak akan bisa menikmati permainan jika di permukaan tanah yang tak rata. Bukan begitu?
Maka niat menjadi pemain basket pun hilang. Saya memilih volley. Cukup menyenangkan, dan saya sangat menikmatinya, meski beberapa kali tanganku memar oleh bolanya. Latihan keras justru membuatku malas, saya tak berniat menjadi atlit. Terdengar membosankan sepertinya.
Tiba di Sengkang, menghabiskan masa SMA sendiri, tentu saja jadi kesempatan baik untuk menghidupkan mimpi bermain basket. Saya bisa pulang hingga larut sekedar bermain di sekolah tanpa khawatir dimarahi, tak ada yang menungguku di kamar kost.
Namun lagi-lagi batal. Saya lebih dulu tenggelam di kegiatan organisasi. Lagipula, kecil kemungkinan saya bisa diterima oleh para penguasa lapangan basket sekolah jika saya tak ada modal sedikit pun. Mereka sudah terbiasa memantulkan bola, melemparkannya ke dalam keranjang. Sedangkan saya?
Tiba-tiba dia mengajakku pacaran. Seorang senior dengan tubuh  paling tinggi di sekolah. Berpacaran dengan senior keren, jago main basket tentu saja membuatku cukup dikenal oleh anak kelas dua dan kelas tiga. Sahabatku memprediksikan sebentar lagi keinginanku terwujud. Sayangnya bahkan hingga putus, dua bulan waktu kami tak pernah berada di lapangan basket. Saya berpacaran kali pertama waktu itu. 
Beberapa bulan kemudian, saya banyak dekat dengan senior-senior yang sungguh saya tidak pernah mengaturnya, semuanya pemain basket.  Membuatku malas menginjak lapangan. Mereka memintaku untuk tetap di sisi lapangan selamanya. Tentu saja membuat saya semakin jauh dengan bola basket, kecuali saat pelajaran olahraga.
Lalu kita bertemu tanpa sengaja di toko buku bekas di pasar Tempe. Kau banyak membagi kisah persahabatanmu juga tentang pertandingan basketmu. Kau membuatku iri. Tapi kita tetap bersahabat, hingga akhir, begitu katamu. Kuakui saya memang tak bisa lama-lama untuk tidak bertemu kau. Kau selalu menginspirasi tiap langkah yang kuambil. Sungguh saya banyak belajar dari kau yang kemudian memilih menjadi seorang guru.
Tapi basket selalu keren di mataku. Juga di matamu tentunya. Maaf, kalau hingga hari ini kau masih membenciku setelah insiden lemparan bolamu yang tak kutangkap lantaran saya memilih tetap menjadi penonton saja. Bukan pemain!
Penghujung SMA saya berkenalan dengan kawanan yang menyebut tim mereka 3 POINT. Saya mengagumi mereka. Tentu saja lagi-lagi mengingatmu. Mereka lincah dan sangat bersahabat. Sama seperti kau dengan kawan ‘badung’ mu. Sama seperti saya dengan kawan ‘narsis’ ku.
Begitu juga pada masa peralihanku dari SMA ke Universitas, saya berkenalan dengan tim yang salah satu diantaranya menamai dirinya ‘Akatsuki Leader’. Ia baik dan jago bermain basket, sama seperti kekasihmu Iwasaki alias Chibi. Hingga kini, teman-temannya pun masih menjalin pertemanan yang baik denganku, bahkan seorang dari mereka menekuni Sastra Jepang, sastra negaramu. Beberapa hari yang lalu kami bersama di pinggir lapangan menyaksikan pertandingan.
Saya akan selalu menggemari pinggir lapangan daripada tengah lapangan. Toh itu akan membuat posisiku selalu nyaman. Tanpa beban. Tanpa rasa was-was karena takut tak terpilih tahap seleksi yang tak pernah seksi di mataku. Tanpa rasa benci setelah kekalahan atau kemenangan.
Pertandingan lebih banyak menghadirkan permusuhan. Dan saya lebih senang menertawai mereka yang larut dalam permusuhan itu. Tak sulit menemukan mereka. Biasanya mereka selalu buru-buru, mimik wajahnya penuh murka dan dengki. Mereka sombong. Belum lagi sang pelatih yang, ah saya tidak suka cara mereka meneriaki para pemain dengan penuh emosi.
Serta tetap mengagumi mereka-mereka yang selalu bermain santai, ramah, bersahabat, tanpa gegabah dan kecurangan tentunya. Sebab hidup hanya permainan, bukan pertandingan. Kemenangan dan kekalahan hanya bagi mereka yang gila urusan dan sok pintar. Saya tetap mengagumi caramu bermain basket, selamanya! Terima kasih telah mengajariku banyak hal memandang kehidupan.
*Nama aslinya Kitashiro Naoko, sahabatku yang juga kebetulan jadi tokoh komik Popcorn karangan Yoko Shoji.

Senin, 21 November 2011

I love My Jeans


Ini adalah satu-satunya celana jeans yang kupunya. Tahun 2008, pas terima gaji setelah menemani 30 mahasiswa dari Jepang ke Toraja dan pulau Barrang Lompo dalam rangka field trip, saya membelinya dengan diskon besar. Saat itu menjelang lebaran, di toko tempat tanteku bekerja memang sering ada diskon. Jadilah saya membelinya dengan harga Rp.70.000. Termasuk mahal menuruku, tapi kata sebagian orang justru sangat murah. Entahlah! 
Waktu itu saya ingin memakai celana, karena kupikir dengan gaji itu cukup juga untuk membeli sebuah sepeda. Saat itu saya ingin sekali naik sepeda ke kampus. Sebagai persiapan, saya membeli celana 2 buah, satu berjenis jeans, yang satunya jenis celana cargo. Tapi setelah membeli celana, saya malah mengurungkan niat membeli sepeda, dengan banyak pertimbangan. Uangnya beralih rencana ke Bali untuk ikutan  Ubud Writers Festival bersama kak Ochank rekan pustakawan di Biblioholic, untuk melihat kak Aan.M yang kebetulan jadi salah satu penulis undangan. Tapi lagi-lagi gagal! Saya juga lupa gara-gara apa, mungkin karena uangku habis buat bayar SPP. Hahhay...
Nah, kalau dihitung, sudah hampir 3 tahun saya memakai celana ini. Pekan lalu, saya menemukan lubang kecil di bagian lutut celana jeansku. Karena kuanggap cukup kecil, tidak begitu kupedulikan. Sampai dua hari lalu, lubangnya bertambah lebar. Tentu saja selain usianya yang tua, robeknya bertambah luas karena pergesekan tiap kali saya beraktufitas. Bahkan sudah kujahit, tapi terlepas dengan sendirinya. Satu-satunya ide yang muncul saat saya buru-buru ingin memakainya, adalah memasanginya emblem. Saya senang mengoleksi emblem tapi tak sembarang emblem. Yang menjadi incaranku adalah emblem yang memuat nilai kampanye positif menurutku. Saya pun memilih emblem bertuliskan 'pakai lagi jangan buang' yang pas menutupi lubang celanaku. Saya juga suka tulisannya.Emblem itu saya dapat dari Needle and Biotch, saya suka sekali sama buatan teman-teman di sana. Keren menurutku!
Tapi setelah kupakai, beberapa orang bilang 'sok preman', beberapa lagi bilang 'ikut-ikutan sama pacar saya'. Padahal saya memasang emblem ini karena memang celanaku robek, tanpa niat ingin terlihat nakal sama sekali. Sumpah! Oya, sebagian lagi bilang saya tak pantas, soalnya pakai jilbab tapi celana pakai emblem segala (loh? daripada pakai celana robek-robek?). Tapi saya cuek saja :p

Dan saya pun memutar lagu Camera Obscura

Of a‚ the airts the wind can blaw
I dearly like the west
For there the bonnie Lassie lives
The Lassie I love best
There’s wild-woods grow, and rivers row
And mony a hill between
But day and night my fancy’s flight
Is ever wi‚ my Jean...

(Jean di sini bukan celana Jeans ku yah? hahaha...)

Selasa, 15 November 2011

Vincent Moon si movie maker, datang ke Makassar


Saya sih tidak begitu banyak tau tentang dia. Sebab pada saat pemutaran video-video klip yang pernah ia kerjakan, saya terlambat datang. Saat itu malam sabtu, kalau tak salah ingat tanggal 4 November 2011. Dua hari lagi lebaran, sebelum masing-masing pulkam, saya bersama Kurns menghabiskan sore sambil main game. Keenakan main, sampai lupa kalau sore itu saya punya janji bertemu Piyo untuk mengantarkan benang rajutan pesanannya. Jadilah saya meninggalkan pondokan setelah magrib.
Sampai di Kampung Buku, kosong!  Piyo sedang keluar berbelanja, itu kabar yang kudapat melalui telepon. Setelah memastikan bahwa saya menitip benang tersebut di lemari buku, dengan tergesa-gesa saya mencari pete-pete kemudian meluncur ke Gedung Kesenian De Societiet Harmonie, sudah pukul 7, pemutaran video-video Vincent pasti sudah dimulai. Setelah turun dari pete-pete, saya harus menghabiskan waktu 10 menit kurang lebih untuk berjalan kaki dari depan karebosi menuju gedung kesenian. Sampai di sana, tak ada tanda-tanda bahwa ada acara di sana. Buru-buru kutelepon Aan, ternyata acaranya di dalam, di arena terbuka.
                Dengan nafas masih ngos-ngosan, saya mencari posisi duduk yang sedikit luas, agar bisa meluruskan kaki, sambil menikmati video entah yang ke berapa. Saya betul-betul telat! Video yang diputar saat saya baru-baru duduk, adalah video klip Phoenix. Keren menurutku, karena videonya di luar ruangan, malah sambil mengikuti perjalanan dalam sebuah bus, dan suaranya bagus, live! Latarnya Paris.
                Saya tak banyak mencatat video-video apa saja yang kutonton, yang kuingat hanya White Shoes and The Couples Company dari Indonesia, Malaikat dan Singa, dan Sigur Ros dan Islandia. Nah, band terakhir yang kusebutkan tadi adalah band yang paling tidak asing bagiku, karena Kurns sangat menyukainya, saya sering sekali mendengar lagu-lagunya melalui Kurns.
                Di sela pemutaran videonya, Vincent Moon mempersilahkan penonton untuk mengajukan pertanyaan. Dijawabnya dengan bahasa Inggris, dan diterjemahkan oleh Luna Vidya bergantian dengan Armin Hari. Tanya jawab pun berlangsung beberapa kali.
                Vincent ternyata senang berkeliling banyak negara. Jika ia punya waktu panjang di suatu negara, maka ia akan mencari pemusik yang dikenal bagus musiknya namun tidak bergabung dalam label record. Terkadang ia membuat video klip tanpa meminta bayaran sama sekali. Saat ditanya, mengapa dia mau melakukannya? Vincent bilang, cita-cita dia adalah membangun masyarakat yang hidup bukan berlandaskan UANG. Dia lahir dan besar di Paris, yang menurut dia adalah negara yang memiliki isme-isme terutama KAPITALISME. Makanya, ia muak dan bercita-cita seperti itu.
Dia juga mengatakan, kalau dulu ia pernah bergabung dengan beberapa perusahaan musik, itu adalah kesalahan yang pernah ia lakukan. Makanya ia saat ini ingin mencoba hal-hal baru yang ia senangi seperti traveling dan semacamnya. Ada banyak hal yang menurutnya bisa dilakukan untuk bisa berinteraksi dengan banyak orang, dan dia memilih musik sebagai caranya. Karena itu tidak mustahil untuk dilakukan oleh semua orang, menurutnya.
Oya, dia juga menambahkan, bahwa dia selama ini lebih banyak menggunakan internet daripada menonton tivi. Karena menurutnya tivi adalah media diktatoris, kita hanya menerima tanpa bisa semua yang ditayangkan memberikan umpan balik. Sedangkan internet kerjanya berkebalikan.
Hampir semua video klip yang ia buat, diambil di luar ruangan alias outdoor. Tapi suaranya tetap bagus terdengar.
Satu hal yang juga menarik menurutku, saat ia ditanya, apakah ia mengerti lagu-lagu yang dinyanyikan oleh band/artis yang ia buatkan video klip? Jawaban Vincent “Hal yang paling menarik adalah membiarkan sesuatu tetap jadi misteri bagi kita”. J
Satu lagi, si Vincent Moon ini tidak tahu bermain musik apa pun loh! Tapi senang membuat video klip musik.
Saya jadi ingat lagunya Jessie J ‘…it’s not about the money money money, we don’t need your money money money, just wanna make the world dance, forget about the price tag…

Selasa, 01 November 2011

Pragmatik Diam


Masih ingat tentang pelajaran pragmatik yang kuceritakan 
sebelum kita menonton film Eks?
Kukatakan diam adalah posisi tertinggi untuk menjaga dirimu di titik aman
Kukira kau tak menghiraukannya, kenapa kini kau yang melaksanakannya, berdiam diri
Padahal kau pernah berharap setelah tidur saya terbangun dengan melupakan semua teori bahasa dalam kepalaku
Saya bukan pelupa! Hanya sedikit penyakitan...

Selasa, 25 Oktober 2011

Kelas Merajut Pertemuan ke-2

Ikut Kelas Merajut Yuk! 
Pertemuan ke-2 bulan Oktober 
Sabtu, 30 Oktober 2011 pukul 3 Sore 
di Taman Macan, Jalan Balaikota (Depan Hotel Celebes) 

Jangan takut tidak memiliki bakat menjahit sama sekali, 
kelas merajut ini belajar dari nol :) 

Catatan: Bawa tikar/karpet serta cemilan masing-masing yah! 
kita merajut sambil berpiknik ria... 

Kelas Ini Gratis! Sampai Bertemu di Kelas Merajut Yuk! :) 

Oya, bantu share ke teman-teman yang tertarik yah :)